ungu

Minggu, 24 November 2013

kegelisahan

Topik: manusia dan pendetitaan
            KEGELISAHAN
1.             PENGERTIAN DAN KEGELISAHAN
Kegelisahan berasal dari kata gelisah, yang berarti tidak temtram hatinya, tidak merasa kwatir, tidak tenang, tidak sabar dan cemas. Kegelisahan merupakan hal yang menggambarkan keadaan seseorang yang tidak tentram hati maupun perbuatannya, merasa kwatir, tidak tenang dalam tingkah lakunya, tidak sabar, maupun dalam kecemasan.
Dari pengertian diatas,seseorang yang sedang mengalami kegelisahan memiliki gejala-kejala sebagai berikut.
1.         Orang itu tidak tenang pikirannya karena ada masalah yang belum terselesaikan dalam pikirannya, orang demikian belum memperoleh sesuatu kepastian seperti yang diharapkan.
2.         Orang demikian merasa selalu kwatir, tajut seseautu yang diharapkan tida tercapai atau tewujudkan, ia takut apa yang diinginkannya terwujud.
3.         Orang yang sedang dilandasi kecemasan, tampak dalam tingkah lakunya seperti berikut ini. Apabial ia sedang duduk, duduknya tidak tenang, sebentar memangdang kekiri, segerah beralih kekanan atau kedepan, dan duduknya selalu beringsut sebentar kekiri atau sebentar kemudian kekanan. Apabila seseorang yang sedang gelisah berdiri, seperti yang sering disaksikan dalam sandiwara, orang itu akan berjalan hilir mudik, ia bejalan tidak bertujuan melainkan hanya sebagai sarana menghilangkan kegelisahannya: perhatiannya berpindah-pindah, seperti ada yang ditunggu-tunggu, entah suatu penyelesaian atau suatu yang diharapkan datang.
Kegelisahan merupakan salah satu ekspresi dari kecemasan, karena itu, dalam kehidupan sehari-hari, kegelisahan berkaitan dengan malasah frustasi, yang pengertiannya dapat disebutkan bahwa seseorang akan memngalami frustasi apa bila apa yang di inginka tidak tercapai.
Sigmund freud, ahli psikoanalisa terkenal berpendapat bahwa ada tiga macam kecemasan yang menimpah manusia, yaitu
a.             Kenyataan
Kenyataa yang pernah dialami seseorang, misalnya rasa terkejud ketika mengetuhui bahwa di bawah tempat tidurnya ada tikus. Rasa terkejut itu demikian hebatnya sehingga tikus tikus merupaka binatang yang sangat mencemaskannya. Seorang wanita yang pernah diperkosa oleh sejumlah pria yang tidak bertanggung jawab, dalam keadaan sendiri akan merasa ketakutan apabila melihat pria, lebih-lebih apabila jumlahnya sama dengan yang memperkosanya
b.             Neurotik
Kecemasan neurotik atau saraf disebabkan oleh pengamatan atau perasaan yang menimbulkan ketegangan pada saraf seseorang. Ketegangan saraf ini timbul karena menurut perasaannya tidak akan mampu menghadapi apa yang terjadi, dan ia selalu membayangkan apa yang dirasakan terjadi akan membuat dirinya menderita. Dalam hal ini, kecemasan terjadi kerena takut pada banyannya sendiri.
Selain itu, dapat juga terjadi bahwa apa yang ditajutkan itu merupakan hal yang sifatnya tidak masuk akal (irasional) yan berlebihan sehinnga menimbulkan fhobia.
c.              Moril
Kecemasan moril umumnyadisebabkan oleh pribadi seseorang. Seperti memiliki macam-macam emosi, seperti iri, benci, dendam, marah dan rendah diri. Emosi demikian merupakan the ego seseorang dan untuk memeperbaikinya, penampilan diri dari orang ini perlu mendapat pengekangan dari the super ego. Apabila hal ini terus-menerus dilakukan, dalam kata lain tidak memperoleh pengekanan, akan merugikan dirinya sendiri, misalnya akan  mendapat celaan dari masyarakat.
Sehungan dengan ketiga bentuk kecemasan tersebut, dapat ambil ksimpulan bahwa kecemasan itu dapat menimbulkan raksi langsung. Salah satunya adalah stres. Itulah sebabnya, dalam kehidupan sehari-hari orang menyamartakan kecemasan dengan stres. Padahal arti halfiah stres itu sendiri adalah tekanan.  Menurtu Dr. P. Sidharta, neurolog keamanan dijakarta, dalam seminarnya di Erasmus Huis tanggal 13 april 1985, dikatakan bahwa tanda seseorang benar-benar dianggapi stres adalah terjdi peningkatang kadar kortikosteroid yang merupakan hasil kelenjar anak ginjal, yang dirangsang oleh saraf bagian otak sebagai pusat dari emosi. Begitu badan mengami ancaman, zat tersebut akan langsung melonjak kadarnya. Namun, ada kalanya orang mampu melawan (fight) sehingga suber stres dapat dikalahkan, tetapi banayk juga yang ketakutan, lalu melariakn diri atau terbang (flight), yang membuat tekanan menjadi semakin parah. Apabila keduanya, yaitu fight dan flight, melawan atau melarikan diri tidak dilakukan, rasa ketakutan orang itu meningkatkan menjadi kecemasan.
Berhungan dengan masalah stres, dikenal dengan adanya tiga tingkatan stres atau kadar stres.

1)             Stres Mahabesar
Stres maha besar timbul apabila seseorang mengalami musibah besar, misalnya kebakaran, kebanjiran, peperangan, dan perampokan. Hal tersebut dapat meneror mentalnya. Dalam menghadapi musibah demikian, tidak jarang seorang langsung lari, bahkan bahkan menjadi sangat tercekam, tidak dapat berbicara. Namun, karena bahaya demikian relatif sedikit, maka pendrita stres ini jarang yang sampai harus dirawat oleh dokter.
2)             Stres situasional
Stres situasional timbul karena secara mendadak dalam suatu situasi. Misalnya, pada seseorang yang mengalami peristiwa penodongan. Peristiwa itu begitu membekas di hatinya dan menjadikan stres, sehingga setiap kali orang tersebut berjalan sendiri, apalagi dalam gelap, stres tersebut akan timbul kembali, atau seseorang yang melihat orang lain mati secara mengerikan karena ditabrak mobil, menyebabkan ia selalu keyakuatan apabila menyeberang jalan.
3)             Stres kronik
Stres keronik dapat melanda seseorang kalau penanggulangan stres yang muncul sebelumnya tidak sempurna atau tuntas. Misalnya, pada seorang suami yang mempunyai istri resmi, tetepi memilki istri simpanan. Dalam diri orang tersebut, stres kronik muncul karena kecemasan yang selalu timbul, yaitu takut kalau-kalau istri dan anaknya tahu. Selain itu, stres ini dapat juga terjadi pada seseorang yang kurang senag pada pekerjaannya. Ia merasa terpaksa melakukannya karena pertimbangan uang. Lama-kelamaan ia dapat dihingapi stres kronik karena sepanjang melakukan pekerjaannya ia selalu merasa tertekan atau enggan.
 Jika seseorang mudah mengalami stres, dirinya diibaratkan sebagai seseorang yang begitu melihat cabai, langsung merasa pedas, padahal cabai itu baru dapat dirasakan pedas apabila sudah dimakan. Untuk itu, Dr. P. Sidharta mengemukakan sepuluh nasehat untuk menghindarkan stres.
a)             Kelurkan isi hati yang mengganggu pikiran kepada orang yang dekat.
b)             Kalau tegang karena sesuatu pekerjaan yang ruwet, tinggalkan dulu perkerjaan itu sebentar.
c)             Kalau sedang sebal, lakuak pekrjaan fisik untuk melemaskan amarah.
d)            Sekali-kali mengalah.
e)             Coba menolong orang lain.
f)              Selesaikan satu pekerjaan saja pada satu saat.
g)             Ingatlah bahwa tidak ada seorang pun yang bisa menerjakan segala-galanya.
h)             Jangan membiasakan memulai sesuatu pada orang lain dengan kritik, tetapi mulailah dengan pujian.
i)               Berikan kesempatan kepada orang lain untuk maraih sukses.
j)               Bersikap ramah terhadap setiap orang.
Ahli lain, yaitu Walter Mc. Quade dan Ann Aikman, dalam bukunya stres terjemahan Dra. Stella, mengatakan bahwa penyebab utama dari kebanyakan penyakit dalam abad XX adalah bayangan adanya stres. Menurutnya, ada tiga macam stres pokok yang menjadi penyebabnya. Ketiga macam stres pokok itu sebagai berikut.
1)             Ancaman perkelahian mati-matian (mortal combat)
Dalam stres ini, jika ancaman timbul, jantung mulai berdebar lebih cepat, tekanan darah naik, dan sistem pencernaan kinerjanya semakin berkurang. Semua itu terjadi secar otomatis, tertuju pada musuh, dan merupakan perubahan fisik yang dirancang untuk meringankan perbuatan fisik. Oleh karena itu, kadang-kasang bisaterjadi perlawanan betul-betul, atau lari menghindar ( fight atau flight)
2)             Masalah mencari makanan yang mencukupi
Sebelum abad XX, hal mencukupi makan berjumlah seberat sekarang. Hal ini teradi karena sekarang banyak orang yang diketakutan kalau sampai tidak cukup makan untuk hidup. Misalnya, di-PHK-kan, orang yang dinonaktifkan dari tugasnya, dan orang yang merasa kehidupannya tidak mencukupi lagi.
3)             Masalah yang menhantui kebanyakan orang, yaitu takut mati
Makin kuatnya budaya materi yang melanda kehidupan manusia modrn, tetapi yakin menipisnya rasa keagamaan yang menyebabkan orang takut mati. Oleh arena itu, timbullah manusia-manusia modern yang kurang beriman.                                                                                                                 

2.             KETERASINGAN
Keterasingan disini berasal dari kata asing, yang berarti tersendiri atau terpisah sendiri. Oleh karena itu, keterasingan berarti hal yang terpisah tersendiri. Seperti telah dikemukakan tentang manusia, bahwa manusia terdiri atas dua aspek, yaitu jasmani dan rohani. Karena itu, sebab-sebab atau sifat keterasingan yang dialami oleh seorang juga dapat bersifat dua hal tersebut, yaitu jasmani dan rohani atau kedua-duanya.
Seperti juga dalam kegelisahan, dalam keterasingan pun ada hal-hal yang menyebabkannya. Ada tiga hal yang menjadi penyebab seseorang harus megalami keterasingan, yaitu akibat dari pelanggaran, adanya perbedaan sosial-ekonomi, dan cacat tubuh. Berikut ini akan diberikan uraiannya agar lebih jelas.
a.              Keterasingan karena pelanggaran
Seedikit mengalami persamaan dengan masyarakat tradisional, dalam negara modern pun, siapa yang melanggar hukum akan di tangkap, diadili, dan apabila ternyata bersalah akan dihukum. Orang yang bersalah ini akan diasingkan dalam penjara,  yang di indonesia diistilahkan sebagai lembaga permasyarakatan agar terdengar lebih manusiawi. Bukan hanya sampai disini, dalam penjara pun seseorang akan di asingkan satu dari yang lain (apa bila tempatnya memungkinkan), atau setidak-tidaknya, ia terasing dari masyakat ramai dalam penjara. Misalnya, untuk mereka yang hukumannya berat akan diasingkan secara ketat dari kawan-kawannya yang dipenjara, sedangkan unutk yang lebih ringan dapt lebih bebas, tetapi kebebasan disini terbatas dalam dinding tembok penjara atau pulau kecil tempat penjara demikian khusus dibangun. Oleh karena itu, seringkali keterasingan mereka dari masyarakat ramai dapat memberikan hukuman psikis yang di sebabkan oleh kerinduannya akan sanak saudaranya, lebih-lebih kepada istri dan anaknya.
b.              Keterasingan karena cacat tubuh
Cacat tubuh yang diderita oleh seseorang sejak lahir, seperti polio, sumbing pada bibir, tangan atau kaki yang bengkok, dan mata juling, dapat menjadi sebab ia diasingkan oleh kawan-kawannya dalm masyarakat. Tidak jarang, penderita ini selalu menjadi bahan ejekan, tidak di ikutsertakan dalam permainan tertentu di kalngan anak-anak,  dan lebih jauh lagi, ia tidak di masukkan dalam tat pergaulan. Anak demikian bukan hanya akan mengalami keterasingan, ia pun akan menderita batin dan sering merasakan kesepian.
Selain cacat bawaan, juga cacat karena penyakit. Dalam rumah sakit, pasien selalu diklasifikasikan menurut penyakitnya, misalnya penyakit dalam, penyakit kulit, dan penyakit saraf. Pengklasifikasian ini bukan di laksanakan tanpa maksud. Ada kalanya di antara maksud baik yang telah direncankan, malah menimbulkan kerugian bagi orang lain, terutama si penderita. Bagi rumah sakit, klasifikasi demikian akan memudahkan untuk merawat penderita, dan bagi keluarga akan memudahkan untuk mencari tempat si penderita dirawat apabila mereka mau berkunjung (bezeok)
c.              Keterasingan karena perbedaan sosial-ekonomi yang menjolok
Perbedaan sosial-ekonomi yang menjolok menyebabkan manusia sebagai warga masyarakat menjdi berkotak-kotak, yang dalam sosioligi disebut sebagai pelapisan masyarakat atau statifikasi masyarakat. Pelapisan itu dapat bersifat tertutup (closet social stratification) yang pertama, merupakan pandangan lama dengan pendirian bahwa seseorang menepati kedudukan yang tinggi atau rendah dalam masyarakat kerena takdir atau nasipnya demikian. Yang kedua, merupakan pandangan baru dengan pendirian bahwa seseorang dari masyarakat rendah dapat menduduki posisi tertinggi apabila ia melakukan usaha atau perjuangan dalam hidupnya.
Soerjono Seokanro, dalam bukunya sosiologi, suatu pengantar (1981:141,142), menyebut adanya empat ukuran yang menyebabkan terjadinya pelapisan, yaitu:
1)             Ukuran kekayaan
Kekayaan seseorang biasanya berupa benda, seperti rumah, perhiasan, kendaraan, tanah, ternak, dan pabrik. Apabial benda-benda tersebut dimiliki oleh seseorang dalam jumlah banyak, ia disebut orang kaya; sebalikny apabila pemilikannya sedikita atau tidak sama sekali, ia disebut miskin. Antara si kaya (the have) dan si miskin (the have not) terdapat jurang yang lebih besar sehingga satu denga yang lain saling terpisah.
2)             Ukuran kekuasaan
Dunia juga mengarah kepemerintah yang demokratis. Hal itu tampak dari sebagian besar negara yang memiliki bentuk pemerintahan republik. Walaupun demikian, dalam tatakepegawaiannya perlu diatur sistem berjenjang. Dalam peraturan Gaii Pegawai Negri (PGPN) di indonesia, dikenal adanya golongan I,II,III,IV. Dapat dibayangkan, bagimana kacau balaunya apabila semuanya menempati golongan IV yang merupakn golingan tertinggi, tidak hanya dalam PGPN, dalam upacara ataupun resepsi, pebedaan golongan juga dilakukan. Dengan alasan “keamanan”, golongan keatas akan menempati barisan depan, golongan lebih rendah dibelakangnya, dan golongan terendah paling belakang.
3)             Ukuran kehormatan
Semestinya, ukuran kehormatan dapat dilepaskan dari ukuran kekayaan dan kekuasaan. Dalam praktiknya, untuk melakukan hal itu sangatlah sulit karena keadaan masyarakat yang makin kompleks. Khususnya dalam masyarakat tradisional, masalah kehormatan masih lebih tampak, mereka yang dihormati atau disegani diberikan tempat yang teratas. Misalnya, dalam suatu kenduru apalagi upecara perkawinan, orang-orang demikian yang merupakan pemimpin informal (tidak resmi) selalu ditempatkan di kedudukan yang dipandang terhormat, antara lain diujung ruangan bagian tengah, walaupun datangnya lebih lambat dari kebanyakan orang.
4)             Ukuran pendidikan
Jenjang pendidikan modern yang disusun berdasarkan tingkatan rendah atau dasar, menengah, dan tinggi juga menyebabkan manusia dalam masyarkat menjadi berlapis-lapis, sehinga memudahkan menjadi keterasingan.hal ini terutama dirasakan oleh mereka yang pendidikannya rendah, karena biasanya juga selalu menempati posisi yang rendah.
Dalam perusahaan swasta, kecenderungan memperhitungkan kemampuan seseorang lebih besar dari pada ijazah formal, tetapi idealnya apabila syarat formal disertai pual dengan kemampuan.

3.             Kesepian
Kesepian berasal dari kata sepi yang berarti sunyi atau lengang, sehingga kata kesepian berarti merasa sunyi atau lengang atau tidak berteman.
Bebrapa gejala pada orang yang dirundung kesepian antara lain adalah sebagai beriukut: apabila ia sedang duduk, pandangan matanya kedepan tampak agak kuyu, kurang memberikan sinar yang terang, dan pandangannya seperti kosong. Tampak matanya terbuka, tetapi kurang memperhatiakan apa yang ada didepannya.
Dalam jiwa yang sepi, tubuhnya terasa lunglai sehingga kepala yang terasa berat bagi badan harus ditopang pada dagunya. Tidak tammpak gerak yang hidup, jadi kebalikan pada orang yang sedang dalam kegelisahan. Orang yang kesepian memang tampak tenang waktu tidur, tetapi tidurnya seperti sesosok mayat yang masih benapas.
Ada beberapa hal yang menyebabkan seseorang merasa kesepian.
Pertama, apabial seseorang etrpisahakn dari kekasihnya. Orang seperti ini akan cepat merasa kesepian karena selama ini sang kekasih yang menjadi pengisi hatinya yang meramaikan hatinya. Rasa kasih sayang yang pernah dibahas dalam bab tentang manusia dan kasih sayang, memang merupakan pengisi hati bagi sesorang. Hilangnya atau perginya orang yang dapat memberikan kasih sayang akan menimbulkan rasa sepi yang kadang-kadang dapat mencekam.
Kedua adalah akibat keterasingan. Dalam pasal seblumnya telah dikemukakan bahwa keterasingan yang dialami seseorang memang secara fisik nyata, tetapi secara psikis tidak mungkin di elakkan. Hal ini terjadi kerena manusia terdiri atas aspek jasmani dan rohani yang tidak mungkin terpisahkan. Jadi, bagaimanapun gerangnya seorang narapidana, dalam lubuk hatinya, pada saat-saat tertentu dia akan merasakan dirinya kesepian.
Sebab ketiga, yang juga telah terselip dalam uraian terdahulu adalah bahwa apabila seseorang tidak memiliki atau tidak mau melakukan suatu kegiatan.orang demikian akan selalu menuruti lamunannya, tidak jarang lamunannya itu akan mengarah kepada pikiran-pikiran yang sifatnya nnegatif sehingga merugikan diri sendiri.    
4.             Ketidakpastian
Ketidak pastian berasal dari kata tidak pasti yang berarti tidak menentu, sehingga ketidak pastian merupakan hal yang tidak tertentu. Dalam ketidakpastian, seseorang terombang-ambing antara ya dan tidak, sudah dan belum, jadi atau tidak, mau atau tidak mau, sehingga orang demikian selalu dalam keragu-raguan. Karena sulit untuk menentukan pilihan atau belum menentunya suatu keadaan, maka orang yang mengalami ketidakpastian selalu dalam kebimbangan atau kebingungan. Ia pin sering mengalami kegelisahan. Semua ini merupakan gejala-gejala psikis yang dialami oleh orang dalam ketidak pastian yang dalam tempo lama dapat menimbulkan frustasi ataupun stres.
Seseorang dapat mengalami ketidakpastian dalam beberapa hal, diantaranya dalam menentukan pilihan, pada saat-saat harus menunggu, dan kepastian dalam bidang hukum. Berikut akan diberikan uraian masing-masing.
a.              Ketidakpastian dalam menentuka pilihan
Seringkali seorang berada di simpangan jalan untuk menentukan pilihan, apabila pilihan yang diambilnya sampai salah, maka dapat berakibat fatal. Itulah sebabnya, dalam menentukan pilihan, seseorang perlu berpikir panjang dan tenang agar pilihannya tepat, sehingga membawanya pada keadaan yang positif.
b.             Ketidakpastian dalam menunggu
Ketidakpastian juga dirasakan pada waktu menunggu, apakah orang atau barang yang ditunggu-tunggu itu pasti datang atau tidak. Saat itu seseorang dirundung ketidakpastian yang membuatnya selalu gelisah.
c.              Ketidakpastian dalam hukum
Ketidakpastian juga sering melanda seseorang dalam bidang hukum. Melalui hukum, orang bertujuan untuk mencari peraturan dalam masyarakat, sehingga sesuatu yang dirasakannya dapat pasti dan tidak lagi membuat orang menjadi bimbang dan ragu.  





Drs. Supartono W., M.M.

1 komentar:

  1. What strategies do you find most effective in balancing the workload and deadlines associated with PATI assignments? regard Telkom University

    BalasHapus

TUGAS ke 4 BAHASA INGGRIS BISNIS 2

As many as one thousand years ago in the southwest, the Hopi and Zuni Indians of North America were building with adobe-sun-baked brick pla...