ungu

Rabu, 06 November 2013

manusia dan cinta kasih

Karya ilmiah
Manusia dan cinta kasih
Hijeriah



















1.      PENGERTIAN CINTA KASIH
Menurut kamus besar bahasa Indonesia (KBBI, Balai Pustaka, 1996), cinta adalah rasa sangat suka (kepada) atau rasa sayang (kepada), ataupun rasa sangat kasih atau sangat tertarik hatinya. Sedangkan kata kasih, artinya perasaan sayang atau cinta (kepada) atau menaruh belas kasian. Dengan demikian, arti cinta dan kasih itu hampir sama sehingga kata kasih dapat dikatakan lebih memperkuat rasa cinta. Oleh karena itu, cinta kasih dapat diartikan sebagai perasaan suka (sayang) kepada seseorang disertai dengan menaruh belas kasihan.
Walaupun cinta dan kasih mengandung arti yang hampir sama, antara keduanya mendapat perbedaan, yaitu cinta lebih mengandung pengertian tentang rasa yang mendalam, sedangkan kasih merupakan pengungkapan untuk mengeluarkan rasa, mengarah kepada orang atau yang dicinta. Dengan kata lain, bersumber dari cinta yang mendalam itulah kasih dapat diwujudkan secara nyata. Apabila akan dihubungkan dengan kata sayang, kata ini mengandung pengertian lebih nyata lagi dalam mewujudkan cinta seseorang. Mahluk hidup mana sajakah yang mengenal cinta kasih?
Tingkah laku tumbuhan memang sudah lebih tinggi dari pada benda mati, tetapi gejala-gejala cinta kasih belum tampak pada tumbuhan. Tingkah laku binatang sudah mulai menunjukkan adanya cinta kasih, terutama induk kepada anaknya. Hal itu dapat terlihat ketika menyusui si anak, si ibu membelainya atau selalu melindunginya dari segala macam bahaya yang mengancam. Tingkah laku manusia makin jelasmenunjukkan adanya rasa cinta kasih yang bukan hanya diwujudkan dalam menyusui atau belaian sayang, tetapi sudah dengan kata-kata dan mimik. Perwujudan itu makin jelas lagi disingkapkan dalam bentuk tulisan yang merupakan tingkat pengungkapan rasa yang tertinggi.
Seperti mahluk hidup lainnya, manusia juga mengalami perkembangan. Dalam hal ini perkembangan manusia terdiri atas tiga fase besar, yaitu anak-anak, dewasa dan tua. Dalam setiap fase, cinta kasih berkembang dalam proses yang berbeda-beda.
Pada fase anak-anak, mereka itu terutama baru dapat menerima cinta kasih dari saudara-saudaranya dan cinta kasih yang lebih diperoleh dari orang tuanya. Pada fase remaja, cinta kasih mulai di tanamkan dalam diri sehingga dalam fase ini merupakan masa pembentukan pribadi untuk menenamkan cinta kasih. Setelah menginjak masa tua, mereka lebih banyak memberikan cinta kasih kepada anak-anaknya.
Namun, soal pemberian cinta kasih yang sempurna bukanlah yang hanya datang dari satu arah, misalnya dari orang tua saja, tetapi juga sebaliknya. Dari anak ke orang tuanya (to give and to take). Jadi, cinta kasih baru terasa apabila ada dua pihak yang sama-sama saling menerima sekaligus juga saling memberi.
Walaupun pada dasarnya manusia memiliki cinta kasih yang melebihi dari pada binatang, tetapi tidak semua manusia dapat memberikan cinta kasih yang sama banyaknya. Ada manusia yang mampu memberikan cinta kasih dan ada juga yang kikir. Menurut tipologi Heymans, manusia banyak memiliki rasa cinta kasih dan selalu memiliki keinginnan untuk berbuat sesuatu dalam kegiatannya antara lain selalu terarah kepada rasa sosiobilitasnya yang tinggi. Orang kholerikus memiliki rasa belas kasian dan suka menolong sebagai tanda ia menaruh rasa kasih atau sayang kepada orang lain. Selain manusia kholerikus, manusia tipe gepassioneerid juga memiliki sifat yang penuh cinta kasih walaupun ia merupakan orang keras dan berdisiplin tinggi. Mereka itu merupakan orang-orang baik hati yang mau berbuat sesuatu untuk orang lain atas dasar cinta kasih.
Agar dapat memahami cinta kasih secara mendalam, berikut ini akan di uraikan tentang cinta yang dalam kehidupan sehari-hari selalu menjadi masalah yang hangat untuk di perbincangkan. Dalam membina gerakan cinta, yang pertama perlu cepat disadari adalah bahwa yang disebut cinta sama sekali bukan nafsu. Pernyataan tersebut sangat penting khususnya bagi remaja yang ningkat nafsu seksualnya sedang bergejolak, biasanya akan sulit membedakan antara cinta dan nafsu karena kedua hal itu memang sangat berdekatan. Sulit dihindari bahwa atas dasar cinta murni yang dirasakan seseorang terhadap orang lain yang berlawanan jenisnya. Akhirnya akan bermuara dalam perkawanin yang mau tidak mau cinta membawanya pada hubungan seksual.
Pengertian cinta dikemukakan juga oleh Dr. Sarlito W. Sarwono dalam majalah sarinah dengan artikel yang berjudul segi tiga cinta. Bukan cinta segi tiga. Dikatakannya bahwa cinta ideal memiliki 3 unsur, yaitu keterikatan, keintiman, kemesraan. Yang dimaksud dengan keterikatan adalah adanya persaan untuk hanya bersama dia, segala prioritas untuk dia, tidak mau pergi dengan orang lain kecuali dengan dia, kalau janji dengan dia harus di tepati, atau ada uang sedikit beli ole-ole hanya untuk dia. Keintiman, yaitu adanya kebiasaan-kebiasaan dan tingkah laku yang menunjukkan bahwa antara  anda dan dia sudah tidak ada jarak lagi sehingga panggilan-panggilan formal seperti bapak, ibu, saudara di ganti dengan sekedar memanggil nama atau sebutan, seperti sayang. Makan minum dari satu piring cangkir tanpa rasa risih, pinjam meminjam baju, saling memakai uang tanpa rasa berutang, tidak saling menyimpan rahasia, dan lain-lain. Kemesraan, yaitu adanya rasa ingin membelai atau dibelai, rasa kangen kalau jauh dan lama tidak bertemu, adanya ucapan-ucapan yang mengungkapkan rasa sayang, saling merangkul, dan sebagainya.
Selanjutnya, Dr. Sarlito W. Sarwono juga mengemukakan bahwa tidak semua unsur cinta itu sama kuat. Kadang-kadang, ada yang keterkaitannya sangat kuat, tapi keintiman dan kemeseraannya sangat kurang. Cinta seperti itu mengandung kesetiaan yang amat kuat dan kecemburuannya besar, serta di rasakan oleh pasangannya dikin atau hambar karena tidak ada kehangatan yang ditimbulkan dari kemesraan atau keintiman. Cinta sahabat karib atau saudara sekandung merupakan contoh diatas. Cinta seperti ini penuh ke akraban, tetapi didalamnya tidak ada gejolak-gejolak mesra, karena orang-orang yang bersangkutan masih lebih setia kepada hal-hal lain dari pada partnernya.
Dra. Kartini Kartono dalam bukunya psikologi abnormal pathologi seks (alumni Bandung 1979) mengemukakan bahwa wanita dan pria dapat disebut normal dan dewasa bila mampu mengadakan relasi seksual dalam bentuk normal dan bertanggung jawab. Hubungan seksual yang normal mengandung pengertian bahwa hubungan tersebut tidak menimbulkan efek bagi kedua belah pihak dan komplik fisikis serta tidak bersifat paksaan. Pengertian tanggungjawab adalah bahwa kedua belah pihak menyadari akan konsekuensinya dan berani bertanggung jawab terhadapnya, misalnya mau menikah dan memelihara anak yang menjadi produk dari relasi seksual yang dilakukan.
Relasi seks yang abnormal dan perversi (buruk, jahat) adalah relasi seks yang tidak bertanggung jawab, didorong oleh kompulsi yang abnormal. Hal demikian bertentangan dengan norma sosial, hukum, maupun agama. Abnormalitas dalam kepuasan seksual Dra.Kartini Kartono di bagi dalam 3 golongan.
Pertama, dorongan seksual yang abnormal. Diantaranya sebagi berikut :
a.       Pelacuran (prostitution) yang pada umumnya dilukan oleh kaum wanita dalam melayani pria “hidung belang” karena dorongan ekonomi, kekecewaan atau balas dendam.
b.      Persinahan (Adultery)  dilakukan oleh laki-laki yang sudah kawin dengan wanita yang bukan partnernya yang legal, oleh pemuda-pemudi secara suka sama suka, karena dorongan seks semata, antara boss dengan karyawannya.
c.       Perkosaan (rape) yang merupakan perbuatan cabul dengan cara kekerasaan atau paksaan.
d.      Bujukan (seduction) merupakan bujukan atau rayuan untuk mengajak partnernya bersetubuh banyak pasien dukun cabul menjadi korbannya.
Kedua, disebabkan partner seksual yang abnormal. Diantaranya adalah sebagai berikut :
a.       Homo seksualitas dilakukan oleh seseorang dengan orang lain yang jenis kelaminnya sama. Karena mayoritas dilakukan oleh pria, maka pengertian homo di lakukan oleh sesama pria. Seseorang homo minta dilayani oleh partnernya dengan cara memakai mulut (oral erotisme) atau dengan dubur (anal erotisme) yang populer dengan sodomi.
b.      Zoofilia (zoo=binatang, filio=mencintai) merupakan bentuk cinta yang sangat mesra dan abnormal sifatnya terhadap binatang. Misalnya diajak tidur bersama, dilayani bicara dan makan, seperti kekasih sejati, membelai, dan meciumnya.
c.       Pedofilia (paidos=anak, phileo=mencintai) dilakukan oleh orang-orang dewasa yang memperoleh kepuasan seks dengan melekukan persetubuhan dengan anak-anak kecil. Diwujudkan dengan cara menciumnya, menimang-nimang, atau menunjukkan alat kelaminnya (ekshibisionisme), dan yang paling berbahaya adalah melakukan hubungan kelamin (coitus) karena dapat merusak masa depan korban berupa trauma psikis atau fisis.
d.      Gerento-seksualitas (geroon=tua renta) dilakukan oleh pemuda yang melakukan hubungan seksual dengan wanita yang jauh lebih tua, karena perhitungan ekonomi.
Ketiga, dalam pemuasan dorongan seksual. Diantaranya sebagai berikut :
a.       Voyeurism atau peeping tom (voyeur, peeping=mengintai) dilakukan oleh seorang yang mendapat kepuasan seks dengan melihat orang telanjang
b.      Transvetisme (trans=melampaui vestis=pakaian) merupakan gejala patologis yang memakai pakaian dari lawan jenis kelaminnya
c.       Transseksualisme terjadi pada seseorang yang merasa dirinya memiliki seksualitas yang berlawanan dengan struktur fisiknya.

2.      Kasih sayang
Pengertian kasih telah dikemukakan diatas. Sedangkan sayang dapat dikaitkan juga dengan kasih karenadalam sayang dapat diwujudkan secara lebih nyata rasa cinta seseorang. Sayang menurut kamus besar bahwa indonesia diartikan kasihan. Oleh karena itu, kasih sayang diartikan sebagai cinta, kasih, atau amat suka akan (kepada). Dengan demikian, maka sayang memperkuat rasa kasih seseorang yang diwujudkan dalam tindakan yang nyata, dan semuanya bersumber dari rasa cinta.
Menurut Erich Fromm (1983:54) dalam bukunya yang disebut cinta adalah sikap, suatu orientasi watak yang menentukan hubungan pribadi dengan dunia keseluruhan, bukan menuju satu “objek” cinta. Selanjutnya dia mengemukakan tentang adanya cinta persaudaraan, cinta ke ibuan, cinta erotis, cinta diri sendiri dan cinta terhadap Allah.
a.       Cinta persaudaraan
Cinta persaudaraan (agape, bahasa yunani) diwujudkan manusia dalam tingkah atau perbuatannya. Cinta persaudaraan tidak mengenal adanya batas-batas manusia yang berdasarkan suku bangsa, maupun agama.
b.      Cinta keibuan
Kasih sayang yang bersumber pada cinta ke ibuan yang paling asli adalah yang terdapat pada diri seorang ibu terhadap anaknya sendiri. Seorang ibu yang memperoleh benih anak dari suaminya yang tercinta akan memrlihara anaknya secara berhati-hati dan penuh kasih sayang demi keselamatan turunannya.
c.       Cinta erotis
Kasih sayang yang bersumber dari cinta erotis (sifat membirahikan) memang merupakan sesuatu yang bersifat eksklusif (khusus) sehingga sering memperdayakan cinta yang sebenarnya.
d.      Cinta diri sendiri
Ada juga kasih sayang yang bersumber pada cinta diri sendiri (self love). Telah dikemukan bahwa disamping mencintai sesama manusia, seseorang perlu juga memiliki cinta diri sendiri. Banyak orang menafsirkan bahwa cinta kepada diri sendiri diidentikkan dengan egoistis
e.       Cinta terhadap Allah
Manusia-manusia bagaimanakah yang dapat memberikan kasih sayang? Apabila kita meninjaunya dari segi perasaan, maka manusia yang dapat memberikan hal seperti itu hanyalah manusia yang tingkat perasaannya luhur, khususnya yang memiliki perasaan simpati dan sosial

3.      Kemesraan
Kemesraan berasal dari kata mesra yang menurut kamus besar bahasa Indonesia berarti sangat erat karib, sehingga kemesraan berarti hal yang menggambarkan keadaan sangat erat atau karib. Kemesraan bersumber pada cinta kasih sayang dan merupakan realisasinya yang nyata.
Tingkat kemesraan dapat dibedakan berdasarkan umur, dan secara umum dapat dibedakan atas remaja, rumah tangga, dan manusia usai lanjut (manula). Berikut diberikan uraian masing-masing agar lebih jelas.
a.       Kemesraan dalam tingkat remaja
Kemesraan tingkat remaja pada umumnya terjadi ketika remaja berada dalam masa puber, tegasnya masa genital pubertas, yaitu masa dimana remaja memiliki kematangan organ kelamin yang menyebabkan dorongan seksualitasnya kuat (hetero seksual).
Dalam kehidupan nyata memang telah dibuktikan saat ini, dalam masa-masa terakhir ini kaum perjaka mulai dikalahkan peranannya oleh para gadis. Hal tersebut cenderung merupakan penyimpanan pola yang bersifat sosial yang merupakan faktor ekstern dalam hubungan pria dan wanita. Beberapa faktor yang menyebabkan kejadian penyimpangan pola tersebut antara lain sebagai berikut :
1.      Jumlah wanita pada umumnya lebih banyak dari kaum pria
2.      Masyarakat maupun pemerintah mengarah kepada perkawinan monogami yaitu perkawinan seorang pria dengan seorang wanita
3.      Emansipasi wanita dan keminduran kaum pria mulai terjadi dalam banyak hal, seperti persamaan kedudukan sebagai pegawai kantor, baik pangkat maupun gaji, banyak wanita yang lebih maju dalam karirnya sehingga kaum pria tertinggal
b.      Kemesraan dalam rumah tangga
Kemesraan terjadi juga dalam rumah tangga. Dalam tradisi lama, perjodohan ditentukan oleh orang tua atau keluarga, atau di istilahkan kawin paksa sehingga mereka yang menjadi suami istri harus menurut saja.
Walaupun demikian, pada masa tertentu adakalanya suatu rumah tangga sulit di pertahankan agar dapat berjalan seperti pada mulanya. Suatu rumah tangga sering mengalami sehingga cinta kasih antara suami dan istri sering tidak harmonis lagi ada tiga sebab yang diuraikan berikut :
1.      Faktor fisik
Dalam usia 45 tahun istri mulai tampak tua, apalagi telah berhentinya haid, ia merasa nafsu seksnya berkurang dan merasa bahwa tugasnya sebagai seorang wanita untuk memproduksi keturunan sudah berakhir. Sedangkan pria dalam usai tersebut merasa fisiknya justru sedang hebat-hebatnya, “life begin fourty” dikatakan bahwa pada waktu itu pria sedang mengalami puber kedua. Sehingga pada masa itu mereka sedang disimpan jalan.
2.      Faktor psikis
Dalam usia sekitar 45 tahun, istri mulai merasakan kejenuhan dalam menghadapi seorang partner yang tetap, yaitu suaminya. Oleh karena itu, terjadi keengganan untuk melayani.
3.      Faktor sosial
Faktor sosial disini timbul karena peralihan titik perhatian istri. Kalau sewaktu mulai berumah tangga perhatian dapat dipusatkan hanya pada suami saja, usia sekitar 45 tahun perhatian beralih kepada kepentingan anak-anaknya atau cucu-cucunya

c.       Kemesraan manusia pada usai lanjut
Kemesraan juga dapat diteruskan dalam masa manusia usai lanjut (manula). Pandangan lama mengatakan bahwa kalau manusia sudah berusia lanjut, sudah menjadi kakek-kakek dan nenek-nenek, tidak pantas lagi untuk bermesraan. Apabila dilakukan akan menjadi tertawaan anak, cucu, maupun cicitnya. Pandangan demikian sudah tidak sesaui lagi pada zaman sekarang justru dalam mereka yang sudah tua, kemesraan harus tetap dipelihara. Tentu saja cara bermesraannya jauh berbeda dengan kemesraan waktu remaja.












Daftar pustaka

Ilmu budaya dasar, Drs. Supartono W., MM

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

TUGAS ke 4 BAHASA INGGRIS BISNIS 2

As many as one thousand years ago in the southwest, the Hopi and Zuni Indians of North America were building with adobe-sun-baked brick pla...