Karya
ilmiah
Manusia
dan cinta kasih
Hijeriah
1. PENGERTIAN
CINTA KASIH
Menurut kamus besar bahasa
Indonesia (KBBI, Balai Pustaka, 1996), cinta adalah rasa
sangat suka (kepada) atau rasa sayang (kepada), ataupun rasa sangat kasih atau
sangat tertarik hatinya. Sedangkan kata kasih, artinya perasaan sayang atau
cinta (kepada) atau menaruh belas kasian. Dengan demikian, arti cinta dan kasih
itu hampir sama sehingga kata kasih dapat dikatakan lebih memperkuat rasa
cinta. Oleh karena itu, cinta kasih dapat diartikan sebagai perasaan suka
(sayang) kepada seseorang disertai dengan menaruh belas kasihan.
Walaupun
cinta dan kasih mengandung arti yang hampir sama, antara keduanya mendapat
perbedaan, yaitu cinta lebih mengandung pengertian tentang rasa yang mendalam,
sedangkan kasih merupakan pengungkapan untuk mengeluarkan rasa, mengarah kepada
orang atau yang dicinta. Dengan kata lain, bersumber dari cinta yang mendalam
itulah kasih dapat diwujudkan secara nyata. Apabila akan dihubungkan dengan
kata sayang, kata ini mengandung pengertian lebih nyata lagi dalam mewujudkan
cinta seseorang. Mahluk hidup mana sajakah yang mengenal cinta kasih?
Tingkah
laku tumbuhan memang sudah lebih tinggi dari pada benda mati, tetapi
gejala-gejala cinta kasih belum tampak pada tumbuhan. Tingkah laku binatang
sudah mulai menunjukkan adanya cinta kasih, terutama induk kepada anaknya. Hal
itu dapat terlihat ketika menyusui si anak, si ibu membelainya atau selalu
melindunginya dari segala macam bahaya yang mengancam. Tingkah laku manusia
makin jelasmenunjukkan adanya rasa cinta kasih yang bukan hanya diwujudkan
dalam menyusui atau belaian sayang, tetapi sudah dengan kata-kata dan mimik.
Perwujudan itu makin jelas lagi disingkapkan dalam bentuk tulisan yang
merupakan tingkat pengungkapan rasa yang tertinggi.
Seperti
mahluk hidup lainnya, manusia juga mengalami perkembangan. Dalam hal ini
perkembangan manusia terdiri atas tiga fase besar, yaitu anak-anak, dewasa dan
tua. Dalam setiap fase, cinta kasih berkembang dalam proses yang berbeda-beda.
Pada
fase anak-anak, mereka itu terutama baru dapat menerima cinta kasih dari
saudara-saudaranya dan cinta kasih yang lebih diperoleh dari orang tuanya. Pada
fase remaja, cinta kasih mulai di tanamkan dalam diri sehingga dalam fase ini
merupakan masa pembentukan pribadi untuk menenamkan cinta kasih. Setelah
menginjak masa tua, mereka lebih banyak memberikan cinta kasih kepada
anak-anaknya.
Namun,
soal pemberian cinta kasih yang sempurna bukanlah yang hanya datang dari satu
arah, misalnya dari orang tua saja, tetapi juga sebaliknya. Dari anak ke orang
tuanya (to give and to take). Jadi,
cinta kasih baru terasa apabila ada dua pihak yang sama-sama saling menerima
sekaligus juga saling memberi.
Walaupun
pada dasarnya manusia memiliki cinta kasih yang melebihi dari pada binatang,
tetapi tidak semua manusia dapat memberikan cinta kasih yang sama banyaknya.
Ada manusia yang mampu memberikan cinta kasih dan ada juga yang kikir. Menurut
tipologi Heymans, manusia banyak
memiliki rasa cinta kasih dan selalu memiliki keinginnan untuk berbuat sesuatu
dalam kegiatannya antara lain selalu terarah kepada rasa sosiobilitasnya yang
tinggi. Orang kholerikus memiliki
rasa belas kasian dan suka menolong sebagai tanda ia menaruh rasa kasih atau
sayang kepada orang lain. Selain manusia kholerikus,
manusia tipe gepassioneerid juga
memiliki sifat yang penuh cinta kasih walaupun ia merupakan orang keras dan
berdisiplin tinggi. Mereka itu merupakan orang-orang baik hati yang mau berbuat
sesuatu untuk orang lain atas dasar cinta kasih.
Agar
dapat memahami cinta kasih secara mendalam, berikut ini akan di uraikan tentang
cinta yang dalam kehidupan sehari-hari selalu menjadi masalah yang hangat untuk
di perbincangkan. Dalam membina gerakan cinta, yang pertama perlu cepat
disadari adalah bahwa yang disebut cinta sama sekali bukan nafsu. Pernyataan tersebut
sangat penting khususnya bagi remaja yang ningkat nafsu seksualnya sedang
bergejolak, biasanya akan sulit membedakan antara cinta dan nafsu karena kedua
hal itu memang sangat berdekatan. Sulit dihindari bahwa atas dasar cinta murni
yang dirasakan seseorang terhadap orang lain yang berlawanan jenisnya. Akhirnya
akan bermuara dalam perkawanin yang mau tidak mau cinta membawanya pada
hubungan seksual.
Pengertian
cinta dikemukakan juga oleh Dr. Sarlito W. Sarwono dalam majalah sarinah dengan
artikel yang berjudul segi tiga cinta. Bukan cinta segi tiga. Dikatakannya bahwa
cinta ideal memiliki 3 unsur, yaitu keterikatan, keintiman, kemesraan. Yang dimaksud
dengan keterikatan adalah adanya persaan untuk hanya bersama dia, segala
prioritas untuk dia, tidak mau pergi dengan orang lain kecuali dengan dia,
kalau janji dengan dia harus di tepati, atau ada uang sedikit beli ole-ole
hanya untuk dia. Keintiman, yaitu adanya kebiasaan-kebiasaan dan tingkah laku
yang menunjukkan bahwa antara anda dan
dia sudah tidak ada jarak lagi sehingga panggilan-panggilan formal seperti
bapak, ibu, saudara di ganti dengan sekedar memanggil nama atau sebutan,
seperti sayang. Makan minum dari satu piring cangkir tanpa rasa risih, pinjam
meminjam baju, saling memakai uang tanpa rasa berutang, tidak saling menyimpan
rahasia, dan lain-lain. Kemesraan, yaitu adanya rasa ingin membelai atau
dibelai, rasa kangen kalau jauh dan lama tidak bertemu, adanya ucapan-ucapan
yang mengungkapkan rasa sayang, saling merangkul, dan sebagainya.
Selanjutnya,
Dr. Sarlito W. Sarwono juga mengemukakan bahwa tidak semua unsur cinta itu sama
kuat. Kadang-kadang, ada yang keterkaitannya sangat kuat, tapi keintiman dan
kemeseraannya sangat kurang. Cinta seperti itu mengandung kesetiaan yang amat
kuat dan kecemburuannya besar, serta di rasakan oleh pasangannya dikin atau
hambar karena tidak ada kehangatan yang ditimbulkan dari kemesraan atau
keintiman. Cinta sahabat karib atau saudara sekandung merupakan contoh diatas. Cinta
seperti ini penuh ke akraban, tetapi didalamnya tidak ada gejolak-gejolak
mesra, karena orang-orang yang bersangkutan masih lebih setia kepada hal-hal
lain dari pada partnernya.
Dra.
Kartini Kartono dalam bukunya psikologi
abnormal pathologi seks (alumni Bandung 1979) mengemukakan bahwa wanita dan
pria dapat disebut normal dan dewasa bila mampu mengadakan relasi seksual dalam
bentuk normal dan bertanggung jawab. Hubungan seksual yang normal mengandung
pengertian bahwa hubungan tersebut tidak menimbulkan efek bagi kedua belah pihak
dan komplik fisikis serta tidak bersifat paksaan. Pengertian tanggungjawab
adalah bahwa kedua belah pihak menyadari akan konsekuensinya dan berani
bertanggung jawab terhadapnya, misalnya mau menikah dan memelihara anak yang
menjadi produk dari relasi seksual yang dilakukan.
Relasi
seks yang abnormal dan perversi (buruk, jahat) adalah relasi seks yang tidak
bertanggung jawab, didorong oleh kompulsi yang abnormal. Hal demikian
bertentangan dengan norma sosial, hukum, maupun agama. Abnormalitas dalam
kepuasan seksual Dra.Kartini Kartono di bagi dalam 3 golongan.
Pertama,
dorongan seksual yang abnormal. Diantaranya sebagi berikut :
a. Pelacuran
(prostitution) yang pada umumnya dilukan oleh kaum wanita dalam melayani pria “hidung
belang” karena dorongan ekonomi, kekecewaan atau balas dendam.
b. Persinahan
(Adultery) dilakukan oleh laki-laki yang
sudah kawin dengan wanita yang bukan partnernya yang legal, oleh pemuda-pemudi
secara suka sama suka, karena dorongan seks semata, antara boss dengan
karyawannya.
c. Perkosaan
(rape) yang merupakan perbuatan cabul dengan cara kekerasaan atau paksaan.
d. Bujukan
(seduction) merupakan bujukan atau rayuan untuk mengajak partnernya bersetubuh
banyak pasien dukun cabul menjadi korbannya.
Kedua,
disebabkan partner seksual yang abnormal. Diantaranya adalah sebagai berikut :
a. Homo
seksualitas dilakukan oleh seseorang dengan orang lain yang jenis kelaminnya
sama. Karena mayoritas dilakukan oleh pria, maka pengertian homo di lakukan
oleh sesama pria. Seseorang homo minta dilayani oleh partnernya dengan cara
memakai mulut (oral erotisme) atau dengan dubur (anal erotisme) yang populer
dengan sodomi.
b. Zoofilia
(zoo=binatang, filio=mencintai) merupakan bentuk cinta yang sangat mesra dan
abnormal sifatnya terhadap binatang. Misalnya diajak tidur bersama, dilayani
bicara dan makan, seperti kekasih sejati, membelai, dan meciumnya.
c. Pedofilia
(paidos=anak, phileo=mencintai) dilakukan oleh orang-orang dewasa yang
memperoleh kepuasan seks dengan melekukan persetubuhan dengan anak-anak kecil. Diwujudkan
dengan cara menciumnya, menimang-nimang, atau menunjukkan alat kelaminnya
(ekshibisionisme), dan yang paling berbahaya adalah melakukan hubungan kelamin
(coitus) karena dapat merusak masa depan korban berupa trauma psikis atau
fisis.
d. Gerento-seksualitas
(geroon=tua renta) dilakukan oleh pemuda yang melakukan hubungan seksual dengan
wanita yang jauh lebih tua, karena perhitungan ekonomi.
Ketiga, dalam pemuasan
dorongan seksual. Diantaranya sebagai berikut :
a. Voyeurism
atau peeping tom (voyeur, peeping=mengintai) dilakukan oleh seorang yang
mendapat kepuasan seks dengan melihat orang telanjang
b. Transvetisme
(trans=melampaui vestis=pakaian) merupakan gejala patologis yang memakai
pakaian dari lawan jenis kelaminnya
c. Transseksualisme
terjadi pada seseorang yang merasa dirinya memiliki seksualitas yang berlawanan
dengan struktur fisiknya.
2. Kasih
sayang
Pengertian kasih
telah dikemukakan diatas. Sedangkan sayang dapat dikaitkan juga dengan kasih
karenadalam sayang dapat diwujudkan secara lebih nyata rasa cinta seseorang. Sayang
menurut kamus besar bahwa indonesia diartikan kasihan. Oleh karena itu, kasih
sayang diartikan sebagai cinta, kasih, atau amat suka akan (kepada). Dengan
demikian, maka sayang memperkuat rasa kasih seseorang yang diwujudkan dalam
tindakan yang nyata, dan semuanya bersumber dari rasa cinta.
Menurut Erich
Fromm (1983:54) dalam bukunya yang disebut cinta adalah sikap, suatu orientasi
watak yang menentukan hubungan pribadi dengan dunia keseluruhan, bukan menuju
satu “objek” cinta. Selanjutnya dia mengemukakan tentang adanya cinta
persaudaraan, cinta ke ibuan, cinta erotis, cinta diri sendiri dan cinta
terhadap Allah.
a. Cinta
persaudaraan
Cinta
persaudaraan (agape, bahasa yunani) diwujudkan manusia dalam tingkah atau
perbuatannya. Cinta persaudaraan tidak mengenal adanya batas-batas manusia yang
berdasarkan suku bangsa, maupun agama.
b. Cinta
keibuan
Kasih
sayang yang bersumber pada cinta ke ibuan yang paling asli adalah yang terdapat
pada diri seorang ibu terhadap anaknya sendiri. Seorang ibu yang memperoleh
benih anak dari suaminya yang tercinta akan memrlihara anaknya secara
berhati-hati dan penuh kasih sayang demi keselamatan turunannya.
c. Cinta
erotis
Kasih
sayang yang bersumber dari cinta erotis (sifat membirahikan) memang merupakan
sesuatu yang bersifat eksklusif (khusus) sehingga sering memperdayakan cinta
yang sebenarnya.
d. Cinta
diri sendiri
Ada
juga kasih sayang yang bersumber pada cinta diri sendiri (self love). Telah
dikemukan bahwa disamping mencintai sesama manusia, seseorang perlu juga memiliki
cinta diri sendiri. Banyak orang menafsirkan bahwa cinta kepada diri sendiri
diidentikkan dengan egoistis
e. Cinta
terhadap Allah
Manusia-manusia
bagaimanakah yang dapat memberikan kasih sayang? Apabila kita meninjaunya dari
segi perasaan, maka manusia yang dapat memberikan hal seperti itu hanyalah
manusia yang tingkat perasaannya luhur, khususnya yang memiliki perasaan
simpati dan sosial
3. Kemesraan
Kemesraan berasal
dari kata mesra yang menurut kamus besar bahasa Indonesia berarti sangat erat
karib, sehingga kemesraan berarti hal yang menggambarkan keadaan sangat erat
atau karib. Kemesraan bersumber pada cinta kasih sayang dan merupakan realisasinya
yang nyata.
Tingkat kemesraan
dapat dibedakan berdasarkan umur, dan secara umum dapat dibedakan atas remaja,
rumah tangga, dan manusia usai lanjut (manula). Berikut diberikan uraian
masing-masing agar lebih jelas.
a. Kemesraan
dalam tingkat remaja
Kemesraan tingkat remaja pada umumnya terjadi ketika
remaja berada dalam masa puber, tegasnya masa genital pubertas, yaitu masa
dimana remaja memiliki kematangan organ kelamin yang menyebabkan dorongan
seksualitasnya kuat (hetero seksual).
Dalam kehidupan nyata memang telah dibuktikan saat
ini, dalam masa-masa terakhir ini kaum perjaka mulai dikalahkan peranannya oleh
para gadis. Hal tersebut cenderung merupakan penyimpanan pola yang bersifat
sosial yang merupakan faktor ekstern dalam hubungan pria dan wanita. Beberapa faktor
yang menyebabkan kejadian penyimpangan pola tersebut antara lain sebagai
berikut :
1. Jumlah
wanita pada umumnya lebih banyak dari kaum pria
2. Masyarakat
maupun pemerintah mengarah kepada perkawinan monogami yaitu perkawinan seorang
pria dengan seorang wanita
3. Emansipasi
wanita dan keminduran kaum pria mulai terjadi dalam banyak hal, seperti
persamaan kedudukan sebagai pegawai kantor, baik pangkat maupun gaji, banyak
wanita yang lebih maju dalam karirnya sehingga kaum pria tertinggal
b. Kemesraan
dalam rumah tangga
Kemesraan terjadi juga dalam rumah tangga. Dalam tradisi
lama, perjodohan ditentukan oleh orang tua atau keluarga, atau di istilahkan
kawin paksa sehingga mereka yang menjadi suami istri harus menurut saja.
Walaupun demikian, pada masa tertentu adakalanya
suatu rumah tangga sulit di pertahankan agar dapat berjalan seperti pada
mulanya. Suatu rumah tangga sering mengalami sehingga cinta kasih antara suami
dan istri sering tidak harmonis lagi ada tiga sebab yang diuraikan berikut :
1. Faktor
fisik
Dalam usia 45 tahun
istri mulai tampak tua, apalagi telah berhentinya haid, ia merasa nafsu seksnya
berkurang dan merasa bahwa tugasnya sebagai seorang wanita untuk memproduksi
keturunan sudah berakhir. Sedangkan pria dalam usai tersebut merasa fisiknya
justru sedang hebat-hebatnya, “life begin fourty” dikatakan bahwa pada waktu
itu pria sedang mengalami puber kedua. Sehingga pada masa itu mereka sedang
disimpan jalan.
2. Faktor
psikis
Dalam usia sekitar 45
tahun, istri mulai merasakan kejenuhan dalam menghadapi seorang partner yang
tetap, yaitu suaminya. Oleh karena itu, terjadi keengganan untuk melayani.
3. Faktor
sosial
Faktor sosial disini
timbul karena peralihan titik perhatian istri. Kalau sewaktu mulai berumah
tangga perhatian dapat dipusatkan hanya pada suami saja, usia sekitar 45 tahun perhatian
beralih kepada kepentingan anak-anaknya atau cucu-cucunya
c. Kemesraan
manusia pada usai lanjut
Kemesraan juga dapat diteruskan dalam masa manusia
usai lanjut (manula). Pandangan lama mengatakan bahwa kalau manusia sudah
berusia lanjut, sudah menjadi kakek-kakek dan nenek-nenek, tidak pantas lagi
untuk bermesraan. Apabila dilakukan akan menjadi tertawaan anak, cucu, maupun
cicitnya. Pandangan demikian sudah tidak sesaui lagi pada zaman sekarang justru
dalam mereka yang sudah tua, kemesraan harus tetap dipelihara. Tentu saja cara
bermesraannya jauh berbeda dengan kemesraan waktu remaja.
Daftar
pustaka
Ilmu
budaya dasar, Drs. Supartono W., MM
Tidak ada komentar:
Posting Komentar