Pengaruh Keluarga dan Kelompok dalam Perilaku
Konsumen
Tugas ke 2
Kelompok 1
1.
Anita Ramsay A
(11213101)
2.
Astri Sri Rahma
(11213459)
3.
Danissa
Inggarningrum (12213025)
4.
Dea Prastiwi
(12213068)
5.
Hijeriah
(14213111)
6.
Wiga Nurlia
Martini (19213280)
Pendahuluan
Perkembangan usaha bisnis dalam era globalisasi saat
ini semakin pesat, ditandai dengan tingkat persaingan antar perusahaan yang
semakin tinggi dan ketat. Keadaan tersebut menyebabkan perusahaan pada umumnya
berusaha untuk mempertahankan kelangsungan hidup, mengembangkan perusahaan,
memperoleh laba optimal serta berusaha memperkuat posisi perusahaan dalam
menghadapi perusahaan pesaing. Seorang
pemasar dituntut mampu menciptakan strategi pemasaran yang tepat dalam rangka
persaingannya dengan perusahaan lain. Pemasar juga harus menciptakan produk
yang mampu mengkarakteristikkan diri agar konsumen mengenal produk-produk yang
dipasarkan oleh perusahaan tersebut. Untuk mengantarkan identitas perusahaan
agar mudah dikenal konsumen, merek menjadi hal yang sangat penting.
Perilaku konsumen
adalah proses dan aktivitas ketika seseorang berhubungan dengan pencarian,
pemilihan, pembelian, penggunaan, serta pengevaluasian produk dan jasa demi
memenuhi kebutuhan dan keinginan. Perilaku konsumen merupakan hal-hal yang
mendasari konsumen untuk membuat keputusan pembelian. Untuk barang berharga
jual rendah (low-involvement) proses
pengambilan keputusan dilakukan dengan mudah, sedangkan untuk barang berharga
jual tinggi (high-involvement) proses
pengambilan keputusan dilakukan dengan dengan pertimbangan yang matang. Dalam
mengenal konsumen kita perlu mempelajari prilaku konsumen sebagai
perwujudan dari seluruh aktivitas jiwa manusia itu sendiri. Suatu metode
didefinisikan sebagai suatu wakil realitias yang di sederhanakan. Model
perilaku konsumenn dapat didefinisikan sebagai suatu sekema atau kerangka kerja
yang di sederhanakan untuk menggambarkan aktiviras-aktiviras konsumen. Model
perilaku konsumen dapat pula di artikan sebagai kerangka kerja atau suatu yang
mewakili apa yang di yakinkan konsumen dalam mengambil keputusan menjual dan
mencari keuntungan.
Keluarga dapat
mempengaruhi perilaku Konsumen. Keluarga adalah organisasi pembelian konsumen
yang paling penting dalam masyarakat. Keputusan pembelian keluarga, tergantung
pada produk, iklan dan situasi. Seseorang umumnya berpartisipasi dalam kelompok
selama hidupnya-keluarga, klub, organisasi. Posisi seseorang dalam setiap kelompok
dapat di identifikasikan dalam peran dan status. Setiap peran membawa status
yang mencerminkan penghargaan yang diberikan oleh masyarakat. Para anggota
keluarga dapat mempengaruhi dengan kuat terhadap perilaku membeli. Kita dapat
membedakan dua macam keluarga dalam kehidupan pembeli. Pertama, keluarga
sebagai sumber orientasi yang terdiri dari orangtua. Kedua, keluarga sebagai
sumber keturunan, disini adanya hubungan yang saling mempengaruhi (suami-istri
dan anak). Studi tentang keluarga dan hubungan mereka dengan pembelian dan
konsumsi adalah penting, tetapi kerap diabaikan dalam analisis perilaku
konsumen.
Kelompok refrensi
seseorang terdiri dari seluruh kelompok yang mempunyai pengaruh langsung maupun
tidak langsung terhadap sikap atau perilaku seseorang. Beberapa di antaranya
adalah kelompok-kelompok primer, yang dengan adanya interaksi yang cukup
berkesinambungan seperti keluarga, teman, tetangga dan teman sejawat.
Kelompok-kelompok sekunder, yang cenderung lebih resmi dan yang mana interaksi
yang terjadi kurang berkesinambungan. Kelompok yang seseorang ingin menjadi
anggotanya disebut kelompok aspirasi. Sebuah kelompok yang memisahkan diri
adalah sebuah kelompok yang nilai atau perilakunya tidak disukai oleh individu.
Orang umumnya sangat
dipengaruhi oleh kelompok refrensi mereka pada 3 cara, pertama, kelompok
refrensi memperlihatkan pada seseorang perilaku dan gaya hidup baru. Kedua,
mereka juga mempengaruhi sikap dan konsep jati diri seseorang karena orang
tersebut pada umumnya ingin “menyesuaikan diri”. Ketiga, mereka menciptakan
tekanan untuk menyesuaikan diri yang dapat mempengaruhi pilihan produk dan
merek seseorang.
Pembahasan
A. Memahami
kekuatan kelompok referensi
- Pengertian Kelompok
Seorang konsumen mungkin akan terlibat atau
menjadi bagian dari satu atau lebih kelompok. Seorang konsumen yang bekerja
sebagai manajer di salah satu perusahaan adalah anggota dari kelompok pegawai
dari perusahaan tempat ia bekerja. Konsumen tersebut menjadi anggota masyarakat
di komplek perumahan ia tinggal. Jika konsumen menjadi anggota sebuah klub
kebugaran, maka ia menjadi bagian dari kelompok klub kebugaran tersebut. Jika
ia aktif di partai politik, maka ia adalah bagian dari kelompok partai tersebut.
Sebuah kelompok (group) merupakan kumpulan dari dua atau lebih orang-orang yang
saling berinteraksi untuk mencapai tujuan yang sama, tujuan tersebut bisa
merupakan tujuan individu atau tujuan bersama. Di dalam perspektif pemasaran,
masing-masing kelompok di mana konsumen menjadi anggotanya akan mempengaruhi
perilaku pembelian dan konsumsi dari
konsumen tersebut.
Kelompok mempengaruhi proses pembelian dalam dua
cara. Pertama, kelompok mempengaruhi pembelian yang dibuat oleh seorang
konsumen. Kedua, anggota-anggota keompok seringkali membuat keputusan
bersama-sama sebagai sebuh kelompok. Sebagai anggota kelompok dari pegawai
sebuah perusahaan, konsumen tersebut akan memakai pakaian kerja sesuai dengan
ketentuan dari kantornya. Sebagai anggota masyarakat, konsumen tersebut harus
mengikuti semua aturan yang digariskan oleh rukun warga dimana ia tinggal.
Konsumen akan sukarela membayar segala macam iuran demi tercapainya tujuan
keamanan semua warga masyarakat. Sebagai anggota klub kebugaran, seorang
konsumen mungkin bersama-sama dengan anggota lain memutuskan tempat liburan
yang akan dikunjungi pada musim panas. Singkatnya, konsumen akan dipengaruhi
oleh kelompok di mana ia menjadi anggotanya.
Kelompok acuan (reference group) adalah seorang individu atau sekelompok orang
yang secara nyata mempengaruhi perilaku seseorang. Kelompok acuan digunakan
oleh seseorang sebagai dasar untuk perbandingan atau sebuah referensi dalam
membentuk respons afektif dan kognitif dan perilaku. Kelompok acuan akan
memberikan standar dan nilai yang akan mempengaruhi perilaku seseorang. Dalam
perspektif pemasaran, kelompok acuan adalah kelompok yang berfungsi sebagai
referensi bagi seseorang dalam keputusan pembelian dan konsumsi. Seorang ayah
adalah kelompok acuan bagi anak-anaknya, anak-anaknya tersebut akan meminta
izin ayahnya jika mereka ingin membeli sesuatu.
Kelompok acuan bagi seseorang bisa terdiri atas
satu orang atau lebih dari satu sampai puluhan. Kelompok acuan bisa merupakan
sesuatu yang nyata (orang sesungguhnya) atau yang bersifat tidak nyata dan
bersifat simbolik (misalnya para eksekutif yang sukses atau para selebriti yang
sukses : tokoh politik, aktor, olahragawan). Kelompok acuan bagi seseorang
mungkin berasal dari kelas sosial yang sama atau berbeda, dan budaya yang sama
atau berbeda, bahkan dari subbudaya yang berbeda atau sama.
B.
Kelompok Referensi
1. Kelompok
Formal dan Informal
Kelompok
acuan sering dibedakan ke dalam formal dan informal. Kelompok formal adalah
kelompok yang memiliki struktur organisasi secara tertulis dan keanggotaan yang
terdaftar secara resmi, misalnya Serikat Pekerja Indonesia, partai politik,
universitas, perusahaan. Kelompok formal biasanya terdaftar secara hukum di
pemerintah. Kelompok informal adalah kelompok yang tidak memiliki strukur
organisasi secara tertulis dan resmi, sifat keanggotaan tidak tercatat.
Kelompok formal biasanya terbentuk karena hubungan sosial, misalnya kelompok
bermain badminton, kelompok senam kebugaran, kelompok arisan, kelompok rukun tetangga.
Anggota kelompok informal biasanya berjumlah sedikit dan berinteraksi secara
dekat dan tatap muka secara intensif dan rutin.
Kelompok
primer adalah kelompokk dengan keanggotaan yang terbatas, interaksi
antaranggota secara langsung tatap muka, memiliki ikatan emosional
antaranggota. Anggota kelompok memiliki kesamaan dalam nilai dan sikap serta
perilaku. Contoh dari kelompok primer adalah keluarga, dan kelompok yang
memiliki ikatan kekerabatan. Kelompok sekunder memiliki ikatan yang lebih
longgar dari kelompok primer, antaranggota kelompok mungkin juga terjadi kontak
tatap muka langsung, antaranggota kelompok memiliki pengaruh kecil terhadap
anggota lainnya. Contoh kelompok sekunder bisa berbentuk kelompok formal
seperti asosiasi profesi, himpunan alumni atau berbentuk kelompok informal
seperti kelompok arisan, kelompok rukun warga, atau teman bermain tenis.
2. Kelompok
Aspirasi dan Disosiasi
Kelompok
aspirasi adalah kelompok yang memperlihatkan keinginan untuk mengikuti norma,
nilai maupun perilaku dari orang lain yang dijadikan kelompok acuannya. Anggota
dari kelompok aspirasi berusaha membuat asosiasi dengan orang lain yang
dijadikan acuannya dengan cara bersikap dan berperilaku yang sama dengan orang
tersebut. Anggota kelompok aspirasi tidak harus menjadi anggota dari kelompok
acuannya, atauantaranggota kelompok aspirasi tidak harus terikat dan saling
berkomunikasi. Anak-anak muda senang meniru cara berpakaian para selebriti dari
Amerika. Mereka bahkan berusaha meniru perilakunya. Anak-anak muda ni disebut
sebagai kelompok aspirasi, sedangkan selebriti Amerika sebagai kelompok
acuannya.
Kelompok
disosiasi adalah seseorang atau kelompok yang berusaha untuk menghindari
asosiasi dengan kelompok acuan. Contohnya para anggota Partai Keadilan selalu
menunjukkan ketertiban dalam berdemonstrasi, yang sangat berbeda dengan
perilaku demo dari kelompok lainnya. Partai keadilan berusaha membuat citra
yang berbeda dari kelompok lain. Partai Keadilan bisa dianggap sebagai kelompok
disosiasi.
- Pengaruh Kelompok Acuan
1. Pengaruh
Normatif
Pengaruh
normatif adalah pengaruh dari kelompok acuan terhadap seseorang melalui
norma-norma sosial yang harus dipatuhi dan diikuti. Pengaruh normatif akan
semakin kuat terhadap seseorang untuk mengikuti kelompok acuan, jika ada
tekanan kuat untuk mematuhi norm-norma yang ada, penerimaan sosial sebagai
motivasi kuat serta produk dan jasa yang dibeli akan terlihat sebagai simbol
dari norma sosial.
Seorang
konsumen cenderung akan mengikuti apa yang dikatakan atau disarankan oleh
kelompok acuan jika ada tekanan kuat untuk mengikuti norma-norma yang ada.
Pengaruh semakin kuat jika ada sanksi sosial bagi konsumen yang tidak mengikuti
sara dari kelompok acuan. Seorang bawahan ada kewajiban atau norma untuk
meminta izin kepada atasannya, jika ia ingin melakukan sesuatu yang berkaitan
degan pekerjaannya. Seorang anak akan minta persetujuan orang tuanya jika ia
ingin memeli suatu produk yang berharga mahal. Jika si anak tidak melakukannya,
orang tua mungkin akan memberikan sanksi sosial atau teguran bahkan hukuman
kepada si anak.
Seorang
konsumen mungkin memiliki motivasi kuat untuk mengikuti perilaku kelompok
acuannya, karena adanya keinginan untuk diterima oleh kelompok acuan tersebut.
Seorang anak berusaha belajar bagaimana bermain gitar, karena adanya keinginan
untuk bisa bergabung dengan teman-temannya yang pandai bermain gitar. Si anak
berusaha bisa melakukan apa yang dilakukan kelompok acuannya agar bisa diterima
oleh kelompok acuannya.
Motivasi
untuk mematuhi norma seringkali tidak cukup kuat untuk mempengaruhi perilaku
seseorang kecuali jika produk dan jasa yang akan dibeli menggambarkan publicly
conspicuous (produk yang terlihat pemakaiannya oleh orang lain, misalnya mobil,
rumah, pakaian) dalam pembelian dan penggunaannya. Jika produk dan jasa yang
dibeli akan terlihat oleh publik atau orang lain dalam pemakaiannya, maka
konsumen akan berusaha mematuhi norma-norma yang diarahkan oleh kelompok acuan
tersebut. Karena produk dan jasa yang dibeli akan menggambarkan citra diri
konsumen tersebut.
2. Pengaruh
Ekspresi Nilai
Kelompok
acuan akan mempengaruhi seseorang melalui fungsinya sebagai pembawa eksprsesi
nilai. Seorang konsumen akan membeli kendaraan mewah dengan tujuan agar orang
lain bisa memandangnya sebagai orang yang sukses atau kendaraan tersebut dapat
meningkatkan citra dirinya. Konsumen tersebut merasa bahwa orang-orang yang
memiliki kendaraan mewah akan dihargai dan dikagumi oleh orang lain. Konsumen
memiliki pandangan bahwa orang lain menilai kesuksesan seseorang dicirikan oleh
pemilikan kendaraan mewah, karena itu ia berusaha memiliki kendaraan tersebut
agar bisa dipandang sebagai seseorang yang telah sukses.
3. Pengaruh
Informasi
Kelompok
acuan akan mempengaruhi pilihan produk atau merek dari seorang konsumen karena
kelompok acuan tersebut sangat dipercaya sarannya karena ia memiliki
pengetahuan dan informasi yang lebih baik. Seorang dokter adalah kelompok acuan
bagi para pasiennya. Pasien menganggap bahwa dokter memiliki pengetahuan dan
inforamasi yang dipercaya, selain itu secara sosial dan peraturan dokter adalh
profesi yang memiliki otoritas dalam membuat resep obat.
C.
Selebritis dan kelompok referensi lainnya
Kelompok
Acuan yang Digunakan dalam Komunikasi
1. Pemasaran
Komunikasi pemasaran
melalui iklan di berbagai media sering menggunakan orang-orang yang dianggap
sebagai kelompok acuan. Para kelompok acuan tersebut adalah selebriti, pakar
atau ahli, orang-orang biasa, para eksekutif perusahaan atau pegawai biasa dan
karakter dagang (trade and spokes-character). Di antara kelompok acuan
tersebut, para selebriti adalah yang paling sering dipakai perusahaan untuk
mengiklankan berbagai produk dan jasa. Para selebriti bisa memiliki pengaruh
yang kuat kepada konsumen dalam pembelian produk dan jasa serta pemilihan
merek. Pengaruh tersebut bisa berbentuk adanya keinginan konsumen untuk
mengasosiasikan dirinya dengan para selebriti. Asosiasi atau identifikasi bisa
berdasarkan rasa kagum, keinginan untuk mengikuti jejak atau gaya hidup
selebriti dan pengahargaan. Ketika konsumen menggunakan merek seperti yang
diiklankan oleh selebriti, konsumen akan berkata “Jika ia memakai merek
tersebut, berarti merek tersebut baik. Jika saya memekainya, maka saya akan
seperti dia”.
2. Selebriti
Kelompok selebriti
adalah para artis film, sinetron, penyanyi, musisi, pelawak dan semua
orang-orang terkenal yang bergerak di bidang hiburan. Para selebriti bisa juga
para pemain olahraga yang terkenal, tokoh politik, para pejabat pemerintah,
para pakar pengamat ekonomi, sosial dan politik. Yang paling banyak digunakan
sebagai bintang iklan adalah para artis film, sinetron dan pembawa acara
berbagai acara televisi.
Dalam mempromosikan
suatu produk, selebriti bisa berfungsi untuk :
a. Memberikan
kesaksian (a testimonial)
b. Memberikan
dorongan dan penguatan (Endorsment)
c. Bertindak
sebagai aktor dalam iklan
d. Bertindak
sebagai jasa bicara perusahaan
Selebriti akan
memberikan manfaat kepada perusahaan karena selebriti memiliki popularitas,
bakat, karisma dan kredibilitas. Dari keempat unsur tersebut, maka kredibilitas
adalah yang paling penting bagi konsumen. Kredibilitas selebriti menggambarkan
persepsi konsumen terhadap keahlian dan pengetahuan selebriti mengenai produk
yang diiklankan dan kepercayaan selebriti (kejujuran selebriti mengenai produk
yang diiklankan). Konsumen adalah orang yang cerdas, mereka memahami bahwa
selebriti hanya berfungsi sebafai aktor iklan yang dibayar mahal, sehingga
kredibilitasnya diragukan. Kredibilitas selebriti semakin diragukan ketika
seorang selebriti beriklan untuk banyak merek produk.
Kelompok
Acuan yang Terkait dengan Konsumen
1. Persahabatan
( friendsip groups)
Konsumen membutuhkan
teman dan sahabat sesamanya. Memiliki teman atau sahabat merupakan naluri dari
konsumen sebagai makhluk sosial. Teman dan sahabat bagi seorang konsumen akan
memenuhi beberapa kebutuhan konsumen diantaranya kebutuhan akan kebersamaan,
kebutuhan rasa aman, kebutuhan untuk mendiskusikan berbagai masalah ketika
konsumen merasa enggan untuk membicarakannya dengan orang tua atau saudara
kandung. Konsumen yang memiliki teman adalah tanda bahwa ia telah membina
hubungan sosial dengan dunia luar. Pendapat dan kesukaan teman seringkali
mempengaruhi pengambilan keputusan konsumen dalam membeli dan memilih produk
dan merek. Kelompok persahabatan adalah kelompok informasi dan mungkin bisa
berbentuk kelompok primer atau sekunder.
Para pemasar telah
memahami bagaimana pentingnya pengaruh kelompok persahabatan (peer group atau
friendship group) terhadap konsumen. Para penjual jasa asuransi sering
menggunakan konsep persahabatan dalam menjual jasa tersebut. Para penjual
menjelaskan berbagai manfaat dari jasa asuransi yang ditawarkan kepada
konsumen, kemudian tidak lupa ia mengatakan bahwa Bapak A, Bapak B, Bapak C
telah ikut kepada program kami. Penjual mengetahui benar bahwa nama-nama yang
disebutkan adalah orang-orang yang telah dikenal atau teman dan konsumen
tersebut. Para penjual mengharapkan bahwa teman-teman yang telah ikut program
asuransi akan memperkuat argumentasi pentingnya asuransi dan mempengaruhi
keputusan konsumen.
2. Kelompok
belanja (shopping groups)
Kelompok belanja adalah
dua atau lebih orang konsumen yang berbelanja bersama pada waktu yang sama.
Kelompok belanja bisa merupakan kelompok persahabatan atau keluarga, namun bisa
juga orang lain yang bertemu di toko untuk membeli produk bersama. Ketika
konsumen datang ke toko mungkin sendiri, tetapi berjumpa orang lain di toko
yang sama. Konsumen secara tidak sengaja akan bertanya kepada konsumen ng baru dikenalnya mengenai produk atau jasa
yang akan dibelinya. Jika beruntung, konsumen tersebut mungkin banyak
memberikan informasi yang diketahuinya mengenai produk dan merek. Informasi
tersebut sering memberkan input penting bagi seseorang dalam mengambil keputusan.
Informasi tersebut akan mengurangi rasa khawatir akan risiko salah dalam
membeli produk.
Seorang konsumen sering
membawa teman atau saudara ketika berbelanja. Tujuan membawa teman bisa
bermacam-macam. Pertama adalah tujuan sosial, yaitu untuk menikmati kebersmaan
dengan saudara atau teman. Kedua adalah untuk mengurangi risiko salah dalam
membeli produk. Konsumen akan membawa teman atau saudara yang telah mengetahui
produk tersebut. Konsumen yang akan membeli komputer, akan membawa teman atau
saudara yang memahami seluk beluk komputer. Teman dan saudara itulah yang akan
memberikan saran dan pengaruh dalam pembelian produk.
3. Kelompok
kerja (work groups)
Konsumen yang telah
bekerja akan menghabiskan waktunya 35-40 jam di tempat kerja. Ia akan berinteraksi
dengan teman-teman sekerjanya baik dalam tim kecil maupun teman kerja lainnya
dari bagian lain. Interaksi yang sering dan intensif memungkinkan teman-teman
sebagai kelompok kerja mempengaruhi perilaku konsumsi dan pengambilan keputusan
konsumen dalam membeli produk dan jasa dan pemilihan merek. Kelompok kerja bisa
berbentuk kelompok kerja formal, jika kelompok kerja tersebut bekerja sebagai
satu tim yang dibentuk oleh perusahaan. Kelompok kerja bisa juga berbentuk
informal, jika kelompok kerja tersebut terdiri atas orang-orang yang bekerja di
perusahaan yang sama. Kelompok kerja informal akan saling bertemu saat makan
siang, kegiatan sosial atau pulang bersama. Kedua kelompok kerja tersebut akan
mempengaruhi konsumen dalam memilih merek dan produk yang akan dibelinya.
4. Kelompok
atau masyarakat (Virtual Groups or
Communities)
Berbagai kelompok yang
telah dibahas sebelumnya menggambarkan kelompok yang dibatasi oleh geografik
dan waktu, yaitu kelompok yang bertemu dan berkomunikasi lisan pada tuang dan
waktu yang telah ditentukan. Perkembangan teknologi komputer dan internet telah
melahirkan suatu kelompok atau masyarakat baru yang disebut kelompok atau
masyarakat maya, yang tidak dibatasi oleh batas kota, provinsi atau negara
bahkan tidak dibatasi oleh waktu.
Melalui internet dan e-mail seorang
konsumen yang masih belajar di sekolah dasar sekarang bisa mencari teman dari
kota lain bahkan dari negara lain, ia bisa berhubungan dengan teman sebayanya
dari berbagai belahan dunia tersebut, kapan saja ia mau. Seorang konsumen bisa
membuk internet dan bergabung dengan masyarakat internet, ia memiliki akses
yang luas untuk mencari masyarakat internet yang sesuai dengan kebutuhannya
kemudian bergabung dengan masyarakat tersebut
5. Kelompok
Pegiat Komsumen (Consumer Action Groups)
Konsumen
yang kecewa dalam pembelian produk dan jasa, akan melakukan beberapa tindakan,
yaitu :
· Diam dan kesal dan menyampaikan
kekecewaannya kepada teman
· Berkirim surat ke tempat pembelian atau
mendatangi toko untuk mengeluh dan minta ganti rugi
· Berkirim surat dan mengeluh kepada surat
kabar atau majalah, atau mengadu ke lembaga perlindungan konsumen
Apapun
yang dilakukan konsumen ketika kecewa terhadap produk adalah gambaran tindakan
protes dari konsumen. Konsumen memerlukan kelompok yang bisa membantunya ketika
dirugikan oleh produsen. Perlindungan konsumen semakin dipentingkan dan
diperhatikan ketika telah diundangkan Undang-Undang Perlindungan Konsumen No. 8
Tahun 1999.
Untuk
melindungi kepentingan konsumen, pemerintah mengakui adanya lembaga
perlindungan konsumen swadaya masyarakat yang diharapkan aktif dalam mewujudkan
perlindungan konsumen. Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) adalah lembaga
swadaya tertua di Indonesia yang telah aktif melindungi kepentingan konsumen.
Lembaga ini telah berperan penting dalam mempengaruhi keputusan konsumen,
bahkan aktif memberikan masukan kepada lembaga pemerintah maupun swasta.
Perusahaan swasta dan pemerintah sering melibatkan YLKI dalam berbagai hal yang
berkaitan dengan kenaikan harga maupun tarif barang dan jasa. Ini merupakan
langkah yang baik dari pemerintah dan swasta dalam melindungi kepentingan
konsumen, karena YLKI didengar pendapatnya terlebih dahulu. YLKI bisa dianggap
sebagai lembaga yang secara tidak langsung memiliki kepentingan konsumen.
D.
Sosialisasi dan fungsi anggota keluarga
Sosialisasi
Anak Sebagai Konsumen
Keluarga
merupakan lingkungan yang paling dekat bagi semua anggota keluarga. Keluarga
memiliki fungsi utama untuk mengembangkan kualitas sumber daya manusia bagi
semua anggotanya terutama anak-anak, termasuk di dalamnya adalah fungsi untuk
menjadikan anak sebagai seorang konsumen. Fungsi- fungsi keluarga yang berjalan
baik merupaka prasyarat penting untuk tercapainya kesejahteraan seluruh anggota
keluarga. Undang-undang No.10 tahun 1992 tentang Perkembangan Kependudukan dan
Pembnagunan Keluarga Sejahtera.Telah memberikan landasan bahwa keluarga harus
mampu menjalakan delapan fungsi, yaitu sebagai berikut :
1. Fungsi
keagamaan, yaitu untuk mendorong dan mengembangkan anggotanya agar kehidupan
keluarga menjadi wahana persemaian nilai-nilai luhur budaya bangsa untuk
menjadi insan-insan agamis yang penuh imam dan takwa kepada Tuhan Yang Maha
Esa.
2. Fungsi
sosial budaya, memberikan kesempatan kepada keluarga dan seluruh anggotanya
untuk mengembangkan kekayaan budaya bangsa yang beraneka ragam dalam satu
kesatuan.
3. Fungsi
cinta kasih, memberikan landasan yang kokoh terhadap hubungan anak dengan anak,
suami dengan istri, orang tua dengan
anaknya, serta hubungan kekerabatan antargenerasi sehingga keluarga menjadi
wadah utama bersemainya kehidupan yang penuh cinta kasih lahir dan batin.
4. Fungsi
melindungi, yaitu keluarga berkewajiban untuk melindungi seluruh anggotanya
sehingga memperoleh rasa aman secara fisik dan psikis.
5. Fungsi
sosialisasi dan pendidikan, memberikan pesan kepada keluarga untuk mendidik
keturunan agar bisa melakukan penyesuaian dengan kehidupan dimasa depan.
Keluarga wajib memberikan pendidikan yang terbaik bagi anak-anaknya sehingga
mereka memeliki pengetahuan, keterampilan dan keahlian yang bermanfaat baginya
sebagai kerja masa depan.
6. Fungsi
reproduksi yang merupakan mekanisme untuk melanjutkan keturunan yang
direncanakan dapat menunjang terciptanya kesejahteraan manusia.
7. Fungsi
ekonomi, yaitu fungsi keluarga untuk menyediakan kebutuhan fisik yang cukup dan
memadai bagi semua anggota keluarga. Keluarga berkewajiban menyediakan makan,
minuman, pakaian, rumah, pemeliharaan kesehatan, pendidikan yang baik bagi
semua anggotanya. Kebutuhan tersebut bisa diperoleh jika keluarga memperoleh
pendapatan dari hasil bekerja. Karena itu orang tua wajib untuk mencari nafkah
untuk menghadapi semua anggotanya
8. Fungsi
pembinaan lingkungan memberikan pada setiap keluarga kemampuan menempatkan diri
secara serasi, selaras dan seimbang sesuai daya dukung alam dan lingkungan yang
berubah secara dinamis.
Peranan
Suami dan Istri dalam pengambilan
keputusan keluarga
Para peneliti konsumen sangat tertarik
untuk mempelajari bagaimana keluarga mengambil keputusan,terutama peran yang
dimainkan oleh suami dan istri dalam
pengambilan keputusan.suami dan istri merupakan dua figur anggota keluarga yang
sangat penting dan dominan diantara anggota keluarga lain (anak-anaknya) sebuah
keluarga yang telah hidup bersama bertahun-tahun tentu telah membeli
beratus-ratus produk dan jasa. Mereka telah mengambil keputusan berulang kali
dalam membeli suatu produk dan jasa. Mereka telah memiliki pola pengambialan
keputusan. Beberapa studi mengidentifikasi model pengambilan keputusan produk sebuah
keluarga, yaitu sebagai berikut :
1. Istri
dominan dalam mengambil keputusan. Istri memiliki wewenang untuk memutuskan
produk dan merek apa yang dibeli umtuk dirinya dan untuk anggota keluarganya.
2. Suami
dominan dalam mengambil keputusan. Suami memiliki kewenangan untuk memutuskan
produk dan merek apa yang dibeli untuk dirinya atau anggota keluarganya.
3. Keputusan
autonomi. Keputusan yang bisa dilakukan oleh istri atau suami, yang bisa
dilakukan tanpa tergantung dari salah satunya. Si istri bisa memutuskan
pembelian produk tanpa harus bertanya kepada suami begitu pula
sebaliknya.misalnya, lampu neon mati dan harus diganti. Istri bisa langsung
membeli produk penggantinya tanpa harus meminta persetujuan suami.
4. Keputusan
berasama. Keputusan untuk membeli produk atau jasa dilakukan bersama antara
suami dan istri. Keputusan untuk membeli produk atau jasa yang berharga mahal
biasanya dilakukan bersama. Memilih sekolah anak biasanya dilakukan bersama
antara suami dan istri.
E.
Pengambilan keputusan keluarga dalam pembelian
Peranan
anggota keluarga dalam pengambilan keputusan pembelian
Anggota
keluarga saling mempengaruhi dalam kepeutusan pembelian dan konsumsi suatu
produk.masing-masing anggota keluarga memiliki peran dalam pengambilan
keputusan.seorang anggota keluarga mungkin memiliki lebih dari satu
peran.berikut diuraikan beberapa peran anggota keluarga dalam pengambilan
keputusan, yaitu sebagai berikut :
1. Inisiator
(initiator), seorang anggota keluarga
yang memiliki idea tau gagasan untukmembe mereka tidak li atau mengkonsumsi
suatu produk, ia akan memberikan informasi kepada anggota keluarga lain untuk
dipertimbangkan dan untuk memudahkan mengambil keputusan.
2. Pemberi
pengaruh (influencer), seorang
anggota keluarga yang selalu dimintapendapatnya mengenai suatu produk atau
merek yang akan dibeli dan dikonsumsi,ia diminta pendapatnya mengenai criteria
dan atribut produk yang sebaiknya dibeli.
3. Penyaring
informasi (gatekeeper), seorang
anggota keluarga yang menyaring semua informasi yang masuk ke dalam keluarga
tersebut,seorang ibu mungkin tidak akan menceritakan mainan mainan baru yang ada
ditoko kepada anak- anaknya,agar mereka tidak akan menjadi konsumtif,seorang
ayah mungkin tidak akan menceritakan kesulitan-kesulitan yang dihadapinya
kepada semua anggota keluarganya,agar mereka tidak menjadi tertekan.
4. Pengambil
keputusan (decider), seorang anggota
keluarga yang memiliki wewenang untuk
memutuskan apakah membeli suatu produk atau suatu merek.ibu biasanya memiliki
wewenang untuk memutuskan mengenai makanan apa yang baik bagi keluarga,dan menu
apa yang disajikan sehari – hari.seorang ibu mungkin akan meminta ijin kepada
bapak untuk member barang-barang yang berharga mahal,atau keduanya mengambil
keputusan bersama.
5. Pembeli
(buyer),seorang anggota keluarga yang
membeli suatu produk,atau yang diberi tugas untuk melakukan pembelian produk.ibu
mungkin akan menyuruh anaknya untuk membeli beras yang sudah habis,atau
menyuruh pembantu rumah tangganya untuk berbelanja setiap hari.
6. Pengguna
(user), seorang anggota keluarga yang
menggunakan atau mengkonsumsi suatu produk atau jasa.sebuah produk mungkin akan
dikonsumi oleh semua anggota keluarga,misalnya nasi.akan tetapi,beberapa produk
mungkin hanya dikonsumsi oleh anggota keluarganya yang berusia muda saja
,misalnya susu bayi atau diaper.
F.
Siklus Hidup Keluarga
Keluarga
berubah bersama waktu, melewati
serangkaian tahap. Proses ini disebut siklus kehidupan keluarga (SKK).
1. Tahap
Single
Walaupun pendapatan
relatif rendah, mereka menjadi sasaran dari sedikit permintaan yang kaku, maka
konsumen di dalam tahap ini umumnya memiliki pendapatan bebas yang besar.
Sebagian dari pendapatan ini digunakan untuk membeli mobil dan peralatan dasar
serta peralatan untuk tempat tinggal mereka yang pertama jauh dari rumah ---
biasanya sebuah apartemen. Mereka cenderung lebih mengikuti mode dan
berorientasi pada rekreasi, menghabiskan sebagian besar pendapatan mereka untuk
busana, minuman keras, makanan diluar rumah, liburan, pengejaran waktu senggang
dan produk serta jasa lain yang terlibat dalam permainan perkawinan.
2. Pasangan
yang baru menikah
Pasangan yang baru
menikah dan tanpa anak biasanya lebih kaya secara financial daripada sebelumnya
dan pada masa dating yang tidak terlalu lama lagi karena istri biasanya
bekerja. Keluarga pada tahap ini juga membelanjakan sebagian besar dari
pendaptan mereka untuk mobil, busana, liburan, dan kegiatan waktu senggang
lain. Mereka juga mempunyai angka pembelian yang tinggi dan pembelian rata-rata
tertinggi untuk barang yang tahan lama, khususnya perabot dan peralatan rumah
tangga dan barang mahal lain, dan tampaknya lebih rentan terhdapa iklan didalam
tahap ini.
3. Sarang
lengkap I (Full nest I)
Dengan adanya anak
pertama, beberapa istri berhenti bekerja diluar rumah, dan sebagai akibat
pendapatan keluarga menurun. Pada saat yang sama, anak kecil menimbulkan
masalah baru yang mengubah cara keluarga membelanjakan pendpatannya. Dua
pasangan tersebut mungkin pindah rumha pertama mereka, membeli perabot dan
perlengkapan untuk anak mereka, membeli mesin cuci, alat pengering dan barang
pemeliharaan rumah, dan membeli produk seperti makanan bayi, obat gosok, obat
batuk, vitamin, mainan, mobil, kereta luncur, dan sepatu luncur. Kebutuhan ini
mengurang tabungan keluarga dan suami serta istri kerap merasa tidak puas
dengan posisi keuangan mereka.
4. Sarang
lengkap II (Full Nest II)
Pada tahap ini, anak
terkecil berusia 6 tahun atau lebih, pendapatan suami membaik, dan istri
kembali bekerja dirumah. Akibatnya, posisi keuangan keluarga biasanya
meningkat. Pola kosumsi terus sangat dipengaruhi oleh anak-anak mereka karena
keluarga cendrung membeli makanan dan supply untuk kebersihan dalam kemasan
berukuran lebih besar, sepeda, piano, dan pelajaran music.
5. Sarang
lengkap III (Full Nest III)
Sementara keluarga
bertambah tua, posisi keuangannya biasanya terus membaik karena penddaptan
suami bertambah, istri kembali bekerja atau mendapat gaji lebih tinggi dan
anak-anak mendapatkan uang dari kerja sambilan. Keluarga umumnya mengganti
beberapa bagian perabot, membeli satu mobil lagi, membeli beberapa peralatan
mewah, dan membelanjakan banyak uang untuk pelayanan perawatan gigi dan untuk
pendidikan anak-anak.
6. Sarang
Kosong I (Empty Nest I)
Pada tahap ini keluarga
paling puas dengan posisi keuangan mereka dan jumlah uang yang ditabung karena
pendapatan terus bertambah dan anak-anak suddah meninggalkan rumah dan tidak lagi
bergantung kepada orang tua mereka dalam hal keuangan. Pasangan tersebut kerap
membuat perbaikan rumah, membeli barang mewah dan membelanjakan proporsi yang
lebih besar dari pendapatan mereka untuk liburan, perjalana dan rekreasi.
7. Sarang
Kosong II (Empty Nest II)
Pada waktu ini, kepala
rumah tangga sudah pension sehingga pasangan tersebut biasanya menderita
penurunan nyata dalam pendapatan. Pengeluaran menjadi lebih berorientasi pada
kesehatan, berpusat pada barang-barang seperti peralatan kedokteran, produk
perawatan medis yang membantu kesehatan tidur dan pencernaan dan barang kali
rumah yang lebih kecil, apartemen atau kondominium di daerah yang beriklim
lebih ramah.
8. Orang
yang Bertahan Sendiri (Solitary Survivor)
Bila masih bekerja,
orang yang bertahan ini masih menikmati pendapatan yang besar. Mereka mungkin
menjual rumah mereka, biasanya membelanjakan uang lebih banyak untuk liburan,
rekreasi dan jenis produk seperti jasa berorientasi kesehatan seperti
disebutkan di atas.
9. Orang
yang Bertahan Sendiri dan Sudah Pensiun (Retired
Solitary Survivor)
Orang yang bertahan sendiri dan
sudah pension mengikuti pola konsumsi umum yang sama kecuali pada skala yang
lebih rendah karena penurunan pendapatan. Selain itu, individu ini mempunyai
kebutuhan khusus akan perhatian, kasih saying dan keamanan.
KESIMPULAN
Perilaku
konsumen adalah tinkat laku dari konsumen, dimana mereka dapat mengilustrasikan
sutu produk dan jasa mereka/satu tindakan-tindakan, proses hubungan sosial yang
dilakukan oleh individu, kelompok dan organisasi dalam mendapatkan, menggunakan
sutu produk.
Keluarga
merupakan lingkungan yang paling dekat bagi semua anggota keluarga. Keluarga
memiliki fungsi utama untuk mengembangkan kualitas sumber daya manusia bagi
semua anggotanya terutama anak-anak, termasuk di dalamnya adalah fungsi untuk
menjadikan anak sebagai seorang konsumen. Fungsi- fungsi keluarga yang berjalan
baik merupaka prasyarat penting untuk tercapainya kesejahteraan seluruh anggota
keluarga antara lain, fungsi keagamaan, fungsi sosial budaya, fungsi cinta
kasih, fungsi melindungi, fungsi sosialisasi dan pendidikan, fungsi reproduksi,
fungsi ekonomi serta fungsi pembinaan lingkungan.
SARAN
Demikian
makalah ini kami buat, semoga berguna bagi pembaca. Apabila ada kekurangan,
kami mohon maaf karena makalah ini masih jauh dari kata sempurna.
DAFTAR PUSTAKA
Sumarwan,
Dr. Ir. Ujang, M.Sc. 2002. Perilaku Konsumen Teori dan Penerapannya dalam
Pemasaran. Penerbit Ghalia Indonesia.
John
C. Mowel dan Michael Minor. 2002. Perilaku Konsumen. Edisi 5. Penerbit
Erlangga.
http://ratnaug.blogspot.co.id/2010/10/makalah-perilaku-konsumen.html

Tidak ada komentar:
Posting Komentar