UNIVERSITAS
GUNADARMA

FAKULTAS EKONOMI
JUDUL : RISET KONSUMEN
PENYUSUN
:
ANITA
RAMSAY AMBARRANI (11213101)
ASTRI
SRI RAHMA (11213459)
DANISSA
INGGARNINGRUM (12213025)
DEA
PRASTIWI (12213068)
HIJERIAH (14213111)
WIGA
NURLIA WARTINI (19213280)
BAB I
PENDAHULUAN
RISET KONSUMEN
A. KONSEP
DASAR, TUJUAN, DAN RUANG LINGKUP RISET KONSUMEN
Bidang riset konsumen berkembang
sebagai perluasan bidang riset pemasaran untuk memungkinkan para pemasar
meramalkan bagaimana konsumen akan bereaksi di pasar dan memahami alasan-alasan
mereka dalam mengambil keputusan untuk membeli. Hasil-hasil riset pasar dan
riset konsumen digunakan untuk memperbaiki pengambilan keputusan manajerial
Perilaku konsumen memiliki kepentingan khusus bagi orang karena
berbagai alasan berhasrat mempengaruhi atau mengubah perilaku itu, termasuk
mereka yang kepentingan utamanya adalah pemasaran, pendidikan, dan perlindungan
konsumen, serta kebijakan umum.
Sebelum Perang Dunia II, banyak
perusahaan, tetapi berorientasi pada produksi yang mencerminkan filosofi bahwa
“produk yang baik akan menjual diri sendiri”. Namun persoalannya berubah
sesudah perang, ketika banyak perusahaan mendapatkan bahwa mereka memiliki
kapasitas yang lebih produktif daripada yang diserap pasar. Segera menjadi
penting sekali untuk mengubah focus dari produksi ke pemasaran.
Elemen kunci dalam definisi ini
adalah pertukaran antara pelanggan dan penyuplai. Masing-masing pihak
memberikan sesuatu yang bernilai kepada pihak lain dengan tujuan memenuhi kebutuhan
mereka masing-masing. Dalam konteks pembelian yang normal, uang ditukar dengan
barang atau jasa yang diinginkan. Perhatikan bahwa pelanggan terletak pada inti
dari proses tersebut. Semua yang dilakukan penyuplai dalam hal produk, harga,
promosi dan distribusi diadaptasikan dengan permintaan pasar.Oleh karena itu
pelanggan menjalankan pengaruh dominan pada semua yang dilakukan
perusahaan.Tidak mengherankan bahwa studi perilaku konsumen memiliki akar
utamanya di dalam bidang ekonomi, dan yang lebih baru, dalam bidang pemasaran.
Pengertian Perilaku Konsumen Saat
ini konsumen begitu dimanjakan dengan berbagai produk yang dapat dipilih untuk
memenuhi kebutuhan.Era produsen mengendalikan konsumen telah berlalu dan telah
digantikan dengan era dimana konsumen memegang kendali. Konsumen yang mendikte
produk apa yang seharusnya diproduksi oleh perusahaan. Perusahaan harus
berfokus pada konsumen, konsumen adalah bagian terpenting dari
perusahaan.Konsumen lebih penting dari pada kekasih (istri atau pacar), orang
bisa hidup tanpa kekasih tetapi perusahaan tidak bisa hidup tanpa konsumen.Oleh
karena itu perusahaan perlu mengerti bagaimana konsumenya berperilaku.Pada
dasarnya perilaku konsumen merupakan tindakan atau perilaku, termasuk di
dalamnya aspek-aspek yang mempengaruhi tindakan itu, yang berhubungan dengan
usaha untuk mendapatkan produk (barang dan jasa) guna memenuhi
kebutuhannya.Tidak ada kesamaan definisi yang dikemukanan para ahli, perbedaan
itu disebabkan adanya perbedaan sudut pandang.Perilaku manusia sangat komplek
sehingga sangat sulit digambarkan dengan kata-kata.
Pengertian perilaku konsumen menurut
Shiffman dan Kanuk (2000) adalah “Consumer behavior can be defined as the
behavior that customer display in searching for, purchasing, using, evaluating,
and disposintog of products, services, and ideas they expect will satisfy they
needs”. Pengertian tersebut berarti perilaku yang diperhatikan konsumen dalam
mencari, membeli, menggunakan, mengevaluasi dan mengabaikan produk, jasa, atau
ide yang diharapkan dapat memuaskan konsumen untuk dapat memuaskan kebutuhannya
dengan mengkonsumsi produk atau jasa yang ditawarkan.
Selain itu perilaku konsumen menurut
Loudon dan Della Bitta (1993) adalah: “Consumer behavior may be defined as the
decision process and physical activity individuals engage in when evaluating,
acquiring, using, or disposing of goods and services”. Dapat dijelaskan
perilaku konsumen adalah proses pengambilan keputusan dan kegiatan fisik
individu-individu yang semuanya ini melibatkan individu dalam menilai,
mendapatkan, menggunakan, atau mengabaikan barang-barang dan jasa-jasa.
Pengertian perilaku konsumen menurut
Engel et al. (1994 : 3) adalah tindakan yang langsung terlibat dalam
mendapatkan, mengkonsumsi, dan menghabiskan produk dan jasa, termasuk proses
yang mendahului dan menyusul dari tindakan ini. Mowen (1990 : 5) mengatakan
bahwa perilaku konsumen adalah studi unit-unit dan proses pembuatan keputusan
yang terlibat dalam menerima, menggunakan dan penentuan barang, jasa, dan ide.
Difinisi tersebut menggunakan istilah unit-unit pembuat keputusan, karena
keputusan bisa dibuat oleh individu atau kelompok. Difinisi tersebut juga
mengatakan bahwa konsumsi adalah proses yang diawali dengan penerimaan,
konsumsi, dan diakhiri dengan penentuan (disposition). Tahap penerimaan
menganalisa faktor-faktor yang mempengaruhi pilihan konsumen terhadap produk,
tahap konsumsi menganalisa bagaimana konsumen senyatanya menggunakan produk
yang diperoleh.
Tahap penentuan menunjukkan apa yang
dilakukan konsumen setelah selesai menggunakan produk tersebut. Studi perilaku
konsumen adalah studi bagaimana seorang individu membuat keputusan untuk
menggunakan sumber-sumber yang dimiliki pada konsumsi yang berkaitan dengan
sesuatu (barang atau jasa). Schifman dan Kanuk (1991 : 5) mengatakan studi ini
meliputi; apa yang dibeli, mengapa ia membelinya, dan berapa sering ia
membelinya.
Swastha dan Handoko (1987 : 9) mendifinisikan perilaku
konsumen sebagai tindakan individu yang secara langsung terlibat dalam usaha
memperoleh dan menggunakan barang dan jasa ekonomisalnya, termasuk kegiatan
pengambilan keputusan.
Menurut Ebert dan Griffin (1995)
consumer behavior dijelaskan sebagai: “the various facets of the decision of
the decision process by which customers come to purchase and consume a
product”. Dapat dijelaskan sebagai upaya konsumen untuk membuat keputusan
tentang suatu produk yang dibeli dan dikonsumsi.Perilaku konsumen melibatkan
interkasi antara pengaruh (afeksi) dan kognisi, perilaku dan kejadian di
sekitar. Untuk memahami konsumen dan mengembangkan strategi pemasaran kita
harus memahami apa yang dipikirkan (kognisi) apa yang dirasakan (afeksi) dan
apa yang mereka lakukan serta kejadian sekitar yang mempengaruhi dan
dipengaruhi oleh apa yang dipikirkan, dirasa, dan dilakukan konsumen. Secara
umum, definisi dari perilaku konsumen adalah “interaksi dinamis antara pengaruh
dan kognisi, perilaku, dan kejadian disekitar kita, dimana terdapat aspek
pertukaran didalamnya” (Peter & Olson, 1999).
Dari definisi umum tersebut, dapat
diambil kesimpulan bahwa terdapat tiga faktor penting didalam definisi
tersebut, yaitu perilaku konsumen adalah dinamis, melibatkan interaksi antara
pengaruh dan kognisi, perilaku dan kejadian sekitar, adanya aspek pertukaran.
Perilaku konsumen adalah dinamis artinya bahwa seorang individu konsumen, suatu
komunitas konsumen, atau masayarakat luas akan selalu berubah dan bergerak
sepanjang waktu. Hal ini berdampak tidak hanya pada studi perilaku konsumen itu
sendiri akan tetapi juga pada pengembangan strategi pemasaran. Perspektif
Pengaruh Perilaku Konsumen Perilaku konsumen memiliki kepentingan khusus bagi
orang karena berbagai alasan berhasrat mempengaruhi atau mengubah perilaku itu,
termasuk mereka yang kepentingan utamanya adalah pemasaran, pendidikan, dan
perlindungan konsumen, serta kebijakan umum.Elemen kunci dalam definisi adalah
pertukaran pelanggan dan penyuplai. Masing-masing pihak memberikan sesuatu yang
bernilai kepada pihak lain yang bertujuan memenuhi kebutuhan mereka
masing-masing. Dalam konteks pembelian yang normal, uang ditukar dengan barang
atau jasa yang diinginkan. Pelanggan terletak pada inti proses tersebut. Semua
yang dilakukan penyuplai dalam hal produk, harga, promosi, dan distribusi
(“Bauran pemasaran” atau “marketing mix”) diadaptasikan dengan permintaan
pasar.
Tidak mengherankan bahwa studi
perilaku konsumen memiliki akar utamnya di dalam bidang ekonomi dan, yang lebih
baru, dalam pemasaran. Pertanyaan mendasar yang menjadi pedoman sebagian besar
tulisan di dalam bidang ini adalah, seperti yang dicatat oleh Belk,”Susunan apa
dari bauran pemasaran akan memiliki efek apa pada perilaku pembelian (purchase
Behaviour) dari konsumen jenis apa?” oleh karena itu, proses pembelian (buying
process) lebih menjadi perhatian para pemasar ketimbang proses konsumsi. Dan,
penelitian konsumen harus memiliki relevansi manajerial yang jelas di dalam
konteks ini sebelum dipertimbangkan.Analisis konsumen merupakan dasar dari
managemen pemasaran. Perencanaan dan strategi pemasaran harus disusun berdasarkan
pemahaman akan konsumen yang menjadi target pasar bagi perusahaan. Pentingnya
pemahaman mengenai konsumen dapat dijumpai dalam definisi pemasaran. Pemasaran
adalah aktivitas manusia yang diarahkan untuk memeuni kebutuhan dan keinginan
melalui proses pertukaran.
Dari definisi tersebut ada dua hal
penting. Pertama pemasar berusaha memuaskan kebutuhan dan keinginan orang lain.
Kedua, pemasaran melibatkan studi tentang pertukaran dalam mana orang saling
menyerahakn sumber daya.Agar menjadi pemasar yang berhasil mereka harus
memahami factor-factor yang mempengaruhi keinginan dan kebutuhan konsumen.
Alasan mempelajari perilaku konsumen dapat diiktisarkan
sebagai berikut:
1. Analisis konsumen menjadi
dasar bagi manager pemasaran. Hal ini membantu menajer dalam:
Ø menyusun
bauran pemasaran.
Ø segmentasi
Ø defferensiasi
dan product positioning
Ø menyediakan
dasar analisisi lingkungan
Ø mengembangkan
riset pemasaran.
2. Analisis konsumen memainkan
peranan kritis dalam pengembangan kebijakan publik.
3. Pengetahuan mengenai
perilakuk konsumen mengembangkan kemampuan konsumen untuk menjadi konsumen yang
lebih efektif.
4. Analisis konsumen memberikan
pengetahuan tentang perilaku manusia.
5. Studi perilaku konsumen
memberikan 3 jenis informasi, yaitu:
a. Orientasi
konsumen
b. Fakta
mengenai perilaku pembelian
c. Teori
yang membimbing dalam proses berfikir.
Hubungan
Pemasaran dan Perilaku Konsumen.
Pengertian Pemasaran menurut Stanton adalah suatu sistem
keseluruhan dari kegiatan-kegiatan bisnis yang ditujukan untuk merencanakan,
menentukan harga, mempromosikan, dan mendistribusikan barang dan jasa untuk
memuaskan kebutuhan, baik kepada pembeli yang ada maupun pembeli potensial
(Stanton, 1997).Pengertian tersebut dapat memberikan gambaran bahwa pemasaran
sebagai suatu sistem dari kegiatan-kegiatan yang saling berhubungan, ditujukan
untuk merencanakan, menentukan harga, mempromosikan, dan mendistribusikan
barang/jasa kepada pembeli secara individual maupun kelompok
pembeli.Kegiatan-kegiatan tersebut beroperasi dalam suatu lingkungan yang
dibatasi sumber-sumber dari perusahaan itu sendiri, peraturan-peraturan, maupun
konsekuensi sosial perusahaan.
Pengertian pemasaran menurut Kotler (2000: 8), pemasaran
adalah proses sosial dan manajerial dimana individu dan kelompok mendapatkan
apa yang mereka butuhkan dan inginkan dengan menciptakan, menawarkan dan
mempertukarkan produk dengan pihak lain.
Dalam hal ini pemasaran merupakan proses pertemuan antara
individu dan kelompok dimana masing-masing pihak ingin mendapatkan apa yang
mereka butuhkan/inginkan melalui tahap menciptakan, menawarkan, dan pertukaran.
Definisi pemasaran tersebut berdasarkan pada prinsip inti
yang meliputi: kebutuhan (needs), produk (goods, services and idea), permintaan
(demands), nilai, biaya, kepuasan, pertukaran, transaksi, hubungan, dan
jaringan, pasar, pemasar, serta prospek.
Terdapat dua faktor yang
mempengaruhi cara dan keberhasilan perusahaan terhadap pemasarannya, yaitu:
1. Lingkungan Eksternal Sistem
Pemasaran.
Lingkungan ini tidak dapat dikendalikan perusahaan, misalnya
kebebasan masyarakat dalam menerima atau menolak produk perusahaan, politik dan
peraturan pemerintah, keadaan perekonomian, kependudukan serta munculnya
pesaing
2. Variabel Internal
Sistem Pemasaran.
Variabel ini dapat dikendalikan oleh perusahaan, terdiri
atas dua kelompok, yaitu sumber bukan pemasaran (kemampuan produksi, keuangan,
dan personal) dan komponen-komponen bauran pemasaran yang meliputi: produk,
harga, promosi, dan distribusi (Swastha, 2002).
Perilaku
Konsumen adalah kegiatan-kegiatan individu yang secara langsung terlibat dalam
mendapatkan dan menggunakan barang dan jasa termasuk di dalamnya proses
pengambilan keputusan pada persiapan dan penentuan kegiatan-kegiatan tersebut
(Swastha dkk., 1997).
Perilaku
konsumen mempelajari di mana, dalam kondisi macam apa, dan bagaimana kebiasaan
seseorang membeli produk tertentu dengan merk tertentu. Kesemuanya ini sangat
membantu manajer pemasaran di dalam menyusun kebijaksanaan pemasaran
perusahaan. Proses pengambilan keputusan pembelian suatu barang atau jasa akan
melibatkan berbagai pihak, sesuai dengan peran masing-masing.
Peran
yang dilakukan tersebut adalah:
1. Initiator
Adalah
individu yang mempunyai inisiatif pembelian barang tertentu
2. Influencer
Adalah individu yang berpengaruh terhadap keputusan
pembelian. Informasi mengenai kriteria yang diberikan akan dipertimbangkan baik
secara sengaja atau tidak
3. Decider
Adalah
yang memutuskan apakah akan membeli atau tidak, apa yang akan dibeli, bagaimana
membelinya
4. Buyer
Adalah
individu yang melakukan transaksi pembelian sesungguhnya
5. User
Adalah individu yang mempergunakan produk atau jasa yang
dibeli.
Banyak
faktor yang mempengaruhi seseorang melakukan pembelian terhadap suatu
produk.Manajemen perlu mempelajari faktor-faktor tersebut agar program
pemasarannya dapat lebih berhasil.Faktor-faktor tersebut diantaranya adalah
faktor ekonomi, psikologis, sosiologis dan antropologis.
Alasan mengapa seseorang membeli produk tertentu atau alasan mengapa membeli pada penjual tertentu akan merupakan faktor yang sangat penting bagi perusahaan dalam menentukan desain produk, harga, saluran distribusi, dan program promosi yang efektif, serta beberapa aspek lain dari program pemasaran perusahaan.
Adapun beberapa teori perilaku konsumen adalah sebagai
berikut:
(1) Teori
Ekonomi Mikro.
Teori
ini beranggapan bahwa setiap konsumen akan berusaha memperoleh kepuasan
maksimal. Mereka akan berupaya meneruskan pembeliannya terhadap suatu produk
apabila memperoleh kepuasan dari produk yang telah dikonsumsinya, di mana
kepuasan ini sebanding atau lebih besar dengan marginal utility yang diturunkan
dari pengeluaran yang sama untuk beberapa produk yang lain;
(2) Teori
Psikologis.
Teori
ini mendasarkan diri pada faktor-faktor psikologis individu yang dipengaruhi
oleh kekuatan-kekuatan lingkungan. Bidang psikologis ini sangat kompleks dalam
menganalisa perilaku konsumen, karena proses mental tidak dapat diamati secara
langsung;
(3) Teori
Antropologis.
Teori
ini juga menekankan perilaku pembelian dari suatu kelompok masyarakat yang
ruang lingkupnya sangat luas, seperti kebudayaan, kelas-kelas sosial dan
sebagainya.
Kerangka
Analisis Perilaku Konsumen
Teori perilaku menyatakan bahwa
perilaku adalah fungsi individu dengan lingkungan.Demikian juga dalam model
perilaku konsumen, keadaan lingkungan dan individu yang bersangkutan memegang
peranan penting dalam menentukan perilakunya.
Secara sederhana Assael (1994 : 14)
mengemukakan bahwa ada tiga faktor pokok yang mempengaruhi proses pengambilan
keputusan. Pertama adalah individu konsumen, dimana pemilihan produk dan jasa
dipengaruhi oleh; kebutuhan, persepsi, dan sikap terhadap alternatif-alternatif
serta demografi konsumen, gaya hidup dan kepribadian. Kedua adalah faktor
lingkungan yang dipelihatkan oleh kebudayaan, kelas sosial, kelompok referensi
dan faktor situasional.Ketiga adalah strategi pemasaran yang mengawasi konsumen
dengan variabel-variabel produk, harga, promosi, dan distribusi.
Faktor situasional adalah kondisi
sesaat yang muncul pada tempat dan waktu tertentu. Kemunculanya terpisah dari
diri produk maupun konsumen (Assael, 1994 : 527). Belk (1975 : 158)
mendifinisikan situasi sebagai semua faktor yang utama terhadap tempat dan
situasi yang tidak menurut pengetahuan seseorang (intra individual) dan stimuli
(alternatif pilihan) dan memiliki bukti dan pengaruh sistimatis pada perilaku
saat itu. Pengaruh situasional adalah kekuatan sesaat yang tidak berasal dari
dalam diri seseorang atau berasal dari produk atau merek yang dipasarkan
(Wilkie, 1990 : 453). Pengaruh situasional pada konsumen adalah faktor personal
dan lingkungan sementara yang muncul pada aktivitas konsumen, sehingga situasi
konsumen meliputi faktor-faktor seperti melibatkan waktu dan tempat dalam mana
aktivitas konsumen terjadi, mempengaruhi tindakan konsumen seperti perilaku
pembelian, dan tidak termasuk karakteristik personal yang berlaku dalam jangka
panjang. Situasi konsumen relatif merupakan kejadian jangka pendek dan harus
dibedakan dengan lingkungan makro atau faktor-faktor personal yang memiliki
jangka waktu lama.Pengaruh situasional telah menjadi pertimbangan bagi banyak
peneliti perilaku konsumen.Kenyataannya semua perilaku konsumen mungkin
dipengaruhi oleh pengaruh situasional.
Peneliti harus mampu
mengidentifikasi variabel situasional mana yang paling umum mempengaruhi
perilaku konsumen.Problem pemasaran dapat disederhanakan jika fokusnya hanya
diarahkan pada situasi yang paling mempengaruhi pembelian produk.Penelitian
telah menemukan bahwa faktor situasional mempengaruhi pilihan konsumen dengan
mengubah kemungkinan pemilihan berbagai alternatif (Kolm, Monroe, dan Glazer,
1987, dalam Titus dan Ernett, 1996).
Terdapat tiga jenis situasi
berkaitan dengan pemasar yaitu: situasi konsumsi, situasi pembelian, dan
situasi komunikasi (Assael, 1994 : 527). Situasi konsumsi adalah keadaan dimana
merek digunakan. Suatu parfum mungkin digunakan untuk acara tertentu sedangkan
parfum yang lain digunakan untuk sehari-hari. Konsumen mungkin minum kopi bubuk
untuk menjamu tamu dan minum kopi instan untuk menu sehari-hari. Situasi
demikian sebagaian dapat diantisipasi, misalnya akan pergi kesuatu tempat atau
akan kedatangan tamu tertentu. Sebagian yang lain tidak bisa diantisipasi
misalnya tiba-tiba ada tamu yang datang. Keadaan demikian memaksa konsumen
membeli sesuatu secara cepat dan rela membayar lebih karena keterbatasan waktu
untuk berkeliling mencari harga yang murah. Situasi pembelian
berkaitan dengan: pertama, lingkungan di dalam toko seperti ketersediaan
produk, perubahan harga, dan kemudahan belanja yang berkait dengan pilihan
berbelanja. Kedua, situasi pembelian berkaitan dengan apakah produk yang dibeli
untuk hadiah atau untuk dirinya sendiri. Konsumen biasanya mengunakan kriteria
yang berbeda dan mungkin memilih merek yang berbeda jika ia membeli untuk dirinya
sendiri. Ketiga, situasi pembelian berkaitan dengan keadaan mood konsumen
ketika berbelaja. Keadaan senang atau keadaan susah mempengaruhi pemrosesan dan
pencarian informasi tentang produk.
Situasi Komunikasi adalah keadaan
dimana konsumen terbuka untuk informasi baik dari orang seorang ataupun
informasi yang bersifat impersonal. Situasi komunikasi dapat menentukan apakah
konsumen akan mengumumkan, memahami dan menahan informasi.
Faktor yang
Mempengaruhi Perilaku Konsumen
Memahami konsumen dan proeses
konsumsinya memberikan berbagai keuntungan antara lain: membantu manager dalam
membuat keputusan, memberikan dasar teoritis bagi peneliti dalam menganalisa
konsumen, membantu legislatif dan pemerintah dalam menyusun undang-undang dan
membuat keputusan, dan membantu konsumen untuk membuat keputusan yang lebih
baik. Lebih dari itu studi tentang konsumen dapat membantu kita untuk lebih
memahami tentang faktor-faktor psikologi, sosiologi, dan ekonomi yang
mempengaruhi perilaku manusia.
Menurut Philip Kotler dan Gary
Armstrong (1996) keputusan pembelian dari pembeli sangat dipengaruhi oleh
faktor kebudayaan, sosial, pribadi dan psikologi dari pembeli:
a. Faktor
Budaya
Faktor budaya memberikan pengaruh paling luas dan dalam pada
perilaku konsumen.Perusahaan harus mengetahui peranan yang dimainkan oleh
budaya, subbudaya dan kelas sosial pembeli.Budaya adalah penyebab paling
mendasar dari keinginan dan perilaku seseorang.Budaya merupakan kumpulan
nilai-nilai dasar, persepsi, keinginan dan perilaku yang dipelajari oleh
seorang anggota masyarakat dari keluarga dan lembaga penting lainnya.
Setiap kebudayaan terdiri dari sub-budaya – subbudaya yang
lebih kecil yang memberikan identifikasi dan sosialisasi yang lebih spesifik
untuk para anggotanya. Sub-budaya dapat dibedakan menjadi empat jenis: kelompok
nasionalisme, kelompok keagamaan, kelompok ras, area geografis. Banyak
subbudaya membentuk segmen pasar penting dan pemasar sering kali merancang
produk dan program pemasaran yang disesuaikan dengan kebutuhan
konsumen.Kelas-kelas sosial adalah masyarakat yang relatif permanen dan
bertahan lama dalam suatu masyarakat, yang tersusun secara hierarki dan
keanggotaannya mempunyai nilai, minat dan perilaku yang serupa. Kelas sosial
bukan ditentukan oleh satu faktor tunggal, seperti pendapatan, tetapi diukur
dari kombinasi pendapatan, pekerjaan, pendidikan, kekayaan dan variable lain
b. Faktor Sosial
Perilaku konsumen juga dipengaruhi oleh faktor sosial,
seperti kelompok kecil, keluarga serta peranan dan status sosial
konsumen.Perilaku seseorang dipengaruhi oleh banyak kelompok kecil.Kelompok
yang mempunyai pengaruh langsung.Definisi kelompok adalah dua orang atau lebih
yang berinteraksi untuk mencapai sasaran individu atau bersama.Keluarga dapat pempengaruhi
perilaku pembelian.Keluarga adalah organisasi pembelian konsumen yang paling
penting dalam masyarakat.Keputusan pembelian keluarga, tergantung pada produk,
iklan dan situasi.Seseorang umumnya berpartisipasi dalam kelompok selama
hidupnya-keluarga, klub, organisasi.Posisi seseorang dalam setiap kelompok
dapat diidentifikasikan dalam peran dan status.Setiap peran membawa status yang
mencerminkan penghargaan yang diberikan oleh masyarakat.
c. Faktor Pribadi
Keputusan pembelian juga dipengaruhi oleh karakteristik
pribadi seperti umur dan tahapan daur hidup, pekerjaan, situasi ekonomi, gaya
hidup, serta kepribadian dan konsep diri pembeli. Konsumsi seseorang juga
dibentuk oleh tahapan siklus hidup keluarga.Beberapa penelitian terakhir telah
mengidentifikasi tahapan-tahapan dalam siklus hidup psikologis.Orang-orang
dewasa biasanya mengalami perubahan atau transformasi tertentu pad a saat mereka menjalani hidupnya.Pekerjaan
mempengaruhi barang dan jasa yang dibelinya.Para pemasar berusaha
mengidentifikasi kelompok-kelompok pekerja yang memiliki minat di atas
rata-rata terhadap produk dan jasa tertentu. Situasi ekonomi seseorang akan
mempengaruhi pemilihan produk. Situasi ekonomi seseorang terdiri dari
pendapatan yang dapat dibelanjakan (tingkatnya, stabilitasnya, dan polanya),
tabungan dan hartanya (termasuk presentase yang mudah dijadikan uang ). Gaya
hidup seseorang adalah pola hidup di dunia yang diekspresikan oleh kegiatan,
minat dan pendapat seseorang.Gaya hidup menggambarkan “seseorang secara keseluruhan”
yang berinteraksi dengan lingkungan.Gaya hidup juga mencerminkan sesuatu
dibalik kelas sosial seseorang.
Kepribadian adalah karakteristik psikologis yang berada dari
setiap orang yang memandang responnya terhadap lingkungan yang relatif
konsisten.Kepribadian dapat merupakan suatu variabel yang sangat berguna dalam
menganalisa perilaku konsumen.Bila jenis- jenis kepribadian dapat
diklasifikasikan dan memiliki korelasi yang kuat antara jenis-jenis kepribadian
tersebut dengan berbagai pilihan produk atau merek.
d. Faktor
Psikologis
Pemilihan barang yang dibeli seseorang lebih lanjut
dipengaruhi oleh empat faktor psikologis, yaitu motivasi, persepsi, pengetahuan
serta kepercayaan. Motivasi merupakan kebutuhan yang cukup menekan untuk
mengarahkan seseorang mencari cara untuk memuaskan kebutuhan tersebut. Beberapa
kebutuhan bersifat biogenik, kebutuhan ini timbul dari suatu keadaan fisiologis
tertentu, seperti rasa lapar, rasa haus, rasa tidak nyaman.Sedangkan
kebutuhan-kebutuhan lain bersifat psikogenik yaitu kebutuhan yang timbul dari
keadaan fisologis tertentu, seperti kebutuhan untuk diakui, kebutuhan harga
diri atau kebutuhan diterima. Persepsi didefinisikan sebagai proses dimana
seseorang memilih, mengorganisasikan, mengartikan masukan informasi untuk
menciptakan suatu gambaran yang berarti dari dunia ini.
Orang
dapat memiliki persepsi yang berbeda-beda dari objek yang sama karena adanya
tiga proses persepsi:
1. Perhatian yang
selektif
2. Gangguan yang selektif
3. Mengingat kembali yang
selektif
Pembelajaran menjelaskan perubahan dalam perilaku seseorang
yang timbul dari
pengalaman.Sedang kepercayaan merupakan suatu pemikiran
deskriptif yang dimiliki
seseorang terhadap sesuatu.
e. Faktor Marketing
Strategy
Merupakan variabel dimana pemasar mengendalikan usahanya
dalam memberi tahu dan mempengaruhi konsumen. Variabel-variabelnya adalah
1. Barang
2. Harga
3. Periklanan
dan Distribusi yang mendorong konsumen dalam proses pengambilan
keputusan.
Pemasar
harus mengumpulkan informasi dari konsumen untuk evaluasi kesempatan utama
pemasaran dalam pengembangan pemasaran.Pemasar memberikan informasi kepada
organisasi pemasaran mengenai kebutuhan konsumen, persepsi tentang
karakteristik merek, dan sikap terhadap pilihan merek.Strategi pemasaran
kemudian dikembangkan dan diarahkan kepada konsumen.Ketika konsumen telah
mengambil keputusan kemudian evaluasi pembelian masa lalu, digambarkan sebagai
umpan balik kepada konsumen individu. Selama evaluasi, konsumen akan belajar
dari pengalaman dan pola pengumpulan informasi mungkin berubah, evaluasi merek,
dan pemilihan merek. Pengalamn konsumsi secara langsung akan berpengaruh apakah
konsumen akan membeli merek yang sama lagi.
Panah umpan balik mengarah kembali kepada organisasi
pemasaran. Pemasar akan mengiikuti rensponsi konsumen dalam bentuk saham pasar
dan data penjualan. Tetapi informasi ini tidak menceritakan kepada pemasar
tentang mengapa konsumen membeli atau informasi tentang kekuatan dan kelemahan
dari merek pemasar secara relatif terhadap saingan. Karena itu penelitian
pemasaran diperlukan pada tahap ini untuk menentukan reaksi konsumen terhadap
merek dan kecenderungan pembelian dimasa yang akan datang. Informasi ini
mengarahkan pada manajemen untuk merumuskan kembali strategi pemasaran ke arah
pemenuhan kebutuhan konsumen yang lebih baik.
Keputusan
Pembelian
Keputusan seorang pembeli juga
dipengaruhi oleh ciri-ciri kepribadiannya, termasuk usia, pekerjaan, keadaan
ekonomi. Perilaku konsumen akan menentukan proses pengambilan keputusan dalam
melakukan pembelian.
Menurut Kotler (1997) ada beberapa tahap dalam mengambil suatu keputusan untuk melakukan pembelian, anatara lain:
Menurut Kotler (1997) ada beberapa tahap dalam mengambil suatu keputusan untuk melakukan pembelian, anatara lain:
1. Pengenalan Masalah
Merupakan
faktor terpenting dalam melakukan proses pembelian, dimana pembeli akan
mengenali suatu masalah atau kebutuhan.
2. Pencarian informasi.
Seorang
selalu mempunyai minat atau dorongan untuk mencari informasi. Apabila dorongan
tersebut kuat dan obyek yang dapat memuaskan kebutuhan itu tersedia maka konsumen
akan bersedia untuk membelinya.
3. Evaluasi Alternatif
Konsumen
akan mempunyai pilihan yang tepat dan membuat pilihan alternatif secara teliti
terhadap produk yang akan dibelinya.
4. Keputusan Pembeli
Setelah
konsumen mempunyai evaluasi alternatif maka konsumen akan membuat keputusan
untuk membeli. Penilaian keputusan menyebabkan konsumen membentuk pilihan merek
di antara beberapa merek yang tersedia.
Tipe Proses
Pembelian Konsumen
1. Proses “ Complex
Decision Making “, terjadi bila keterlibatan kepentingan tinggi pada
pengambilan keputusan yang terjadi. Contoh pengambilan untuk membeli sistem
fotografi elektronik seperti Mavica atau keputusan untuk membeli mobil.Dalam
kasus seperti ini, konsumen secara aktif mencari informasi untuk mengevaluasi
dan mempertimbangkan pilihan beberapa merek dengan menetapkan kriteria tertentu
seperti kemudahan dibawa dan resolusi untuk sistem kamera elektronik, dan untuk
mobil adalah hemat, daya tahan tinggi, dan peralatan.Subjek pengambilan
keputusan yang komplek adalah sangat penting.Konsep perilaku kunci seperti
persepsi, sikap, dan pencarian informasi yang relevan untuk pengembangan
stratergi pemasaran.
2. Proses “ Brand Loyalty “.
Ketika pilihan berulang, konsumen belajar dari pengalaman masa lalu dan membeli
merek yang memberikan kepuasan dengan sedikit atau tidak ada proses
pertimbangan dalam pengambilan keputusan. Contoh pembelian sepatu karet basket
merek Nike atau sereal Kellogg,s Nutrific. Dalam setiap kasus disini pembelian
adalah penting untuk konsumen, sepatu basket karena keterlibatan kepentingan
dalam olah raga, makanan sereal untuk orang dewasa karena kebutuhan
nutrisi.Loyalitas merek muncul dari kepuasan pembelian yang lalu. Sehingga,
pencarian informasi dan evaluasi merek terbatas atau tidak penting
keberadaannya dalam konsumen memutuskan membeli merek yang sama.
Dua
tipe yang lain dari proses pembelian konsumen dimana konsumen tidak terlibat
atau keterlibatan kepentingan yang rendah dengan barangnya adalah tipe
pengambilan keputusan terbatas dan proses inertia.
1. Proses “ Limited Decision
Making “
Konsumen kadang-kadang mengambil keputusan walaupun mereka
tidak memiliki keterlibatan kepentingan yang tinggi, mereka hanya memiliki
sedikit pengalaman masa lalu dari produk tersebut.Konsumen membeli barang
mencoba-coba untuk membandingkan terhadap makanan snack yang biasanya
dikonsumsi. Pencarian informasi dan evaluasi terhadap pilihan merek lebih
terbatas dibanding pada proses pengambilan keputusan yang komplek. Pengambilan
keputusan terbatas juga terjadi ketika konsumen mencari variasi.Kepitusan itu
tidak direncanakan, biasanya dilakukan seketika berada dalam toko. Keterlibatan
kepentingan yang rendah, konsumen cenderung akan berganti merek apabila sudah
bosan mencari variasi lain sebagai perilaku pencari variasi akan melakukan
apabila resikonya minimal.
Catatan proses pengambilan keputusan adalah lebih kepada
kekhasan konsumen daripada kekhasan barang. Karena itu tingkat keterlibatan
kepetingan dan pengambilan keputusan tergantung lebih kepada sikap konsumen
terhadap produk daripada karakteristik produk itu sendiri. Seorang konsumen
mungkin terlibat kepentingan memilih produk makanan sereal dewasa karena nilai
nutrisinya, konsumen lain mungkin lebih menekankan kepada kecantikan dan
menggeser merek dalam mencari variasi.
2. Proses “ Inertia “
Tingkat kepentingan dengan barang adalah rendah dan tidak
ada pengambilan keputusan. Inertia berarti konsumen membeli merek yang sama
bukan karena loyal kepada merek tersebut, tetapi karena tidak ada waktu yang
cukup dan ada hambatan untuk mencari alternatif, proses pencarian informasi
pasif terhadap evaluasi dan pemilihan merek. Robertson berpendapat bahwa
dibawah kondisi keterlibatan kepentingan yang rendah “ kesetiaan merek hanya
menggambarkan convenience yang melekat dalam perilaku yang berulang daripada
perjanjian untuk membeli merek tersebut” contoh pembelian sayur dan kertas
tisu.
B. PARADIGMA RISET
KONSUMEN
Para peneliti konsumen periode
pertama hanya sedikit memikirkan pengaruh suasana hati (mood), emosi, atau
situasi terhadap kepuasan konsumen.Mereka percaya bahwa pemasaran hanya
merupakan ilmu ekonomi terapan, dan para konsumen adalah pengambil keputusan
yang rasional, yang secara obyektif menilai barang dan jasa yang tersedia bagi
mereka dan hanya memilih yang memberikan manfaat (kepuasan) tertinggi dengan
harga terendah.
Pada tahun 1939, seorang psikoanalis
dari Wina yang bernama Ernest Ditcher mulai memakai teknik psikoanalis Freud
untuk menyingkap motivasi yang tersembunyi pada diri konsumen.Pada akhir tahun
1950-an, metodologi risetnya yang disebut riset motivasi pada dasarnya
merupakan pendekatan kualitatif, dipakai secara luas oleh para riset
konsumen.Para peneliti konsumen sekarang ini menggunakan dua macam
metodologiriset yang berbeda untuk mempelajari perilaku konsumen yaitu dengan
riset kuantitatif dan riset kualitatif.
RISET
KUANTITATIF
Riset kuantitatif bersifat
deskriptif dan digunakan untuk memahami pengaruh berbagai masukan promosi
terhadap konsumen, sehingga memungkinkan para pemasar “meramalkan” perilaku
konsumen.Pendekatan riset ini dikenal sebagai positivisme dan para penelitinya
dikenal sebagai positivis.Metode riset yang digunakan terdiri dari eksperimen,
teknik survey, dan observasi.Hasil-hasilnya bersifat deskriptif, empiris, dan
jika diambil secara acak (dengan menggunakan sampel probabilitas) dapat
digeneralisasikan ke populasi yang lebih besar.
RISET KUALITATIF
Metode riset kualitatif terdiri dari wawancara yang mendalam,
kelompok-kelompok fokus, analisis kiasan, riset kolase, dan teknik
proyeksi.Teknik ini dilakukan melalui analisis pewawncara yang sangat terlatih
dan cenderung bersifat subyektif.Hasil-hasilnya tidak dapat digeneralisasikan
pada populasi yang lebih luas karena jumlah sampelnya sedikit.Teknik ini
biasanya digunakan untuk memperoleh berbagai gagasan baru untuk kampanye
promosi.
MENGGABUNGKAN HASIL-HASIL RISET KUALITATIF DAN KUANTITATIF
MENGGABUNGKAN HASIL-HASIL RISET KUALITATIF DAN KUANTITATIF
Beberapa pemasar menggunakan
gabungan riset kuantitati dan kualitatif untuk membantu membantu mengambil
keputusan pemasarantrategis karena terbatasnya hasil riset kualitatif. Hasil
riset kualitatif digunakan untuk menemukan berbagai gagasan baru dan untuk
mengembangkan strategi promosi, sedangkan hasil riset kuantitatif digunakan
untuk meramalkan reaksi konsumen terhadap berbagai input promosi. Gagasan yang
berasal dari riset kualitatif terkadang diuji secara empiris dan menjadi dasar
bagi perancangan studi kuantitatif.Hasil penggabungan memungkinkan para pemasar
untuk merancang berbagai strategi pemasaran yang lebih berarti dan lebih
efisien yang bertujuan memperoleh laba maupun nirlaba.Kedunya juga membarikan
dasar yang lebih kuat untuk keputusan kebijakan public.
C. PROSES RISET KONSUMEN
Langkah
utama dalam proses riset konsumen meliputi:
1. Menentukan tujuan riset
2. Mengumpulkan dan
mengevaluasi data sekunder
3. Merancang studi riset primer
4. Mengumpulkan data primer
5. Menganalisis data
6. Mempersiapkan laporan hasil
riset
MENENTUKAN
TUJUAN RISET
Langkah pertama dalam proses riset
konsumen adalah menentukan dengan teliti tujuan studi. Merupakan hal penting
bagi manajer pemasaran dan peneliti untuk menyepakati dari awal maksud dan
tujuan studi untuk menjamin agar rancangan riset itu tepat.Tujuan yang
dipertimbangkan secara teliti membantu menemukan jenis dan mutu informasi yang
dibutuhkan.
MENGUMPULKAN
DAN MENGEVALUASI DATA SEKUNDER
Informasi data sekunder adalah
setiap data yang pada awalnya dihasilkan untuk tujuan tertentu yang berbeda dengan
tujuan riset sekarang.Informasi ini meliputi hasil riset yang didasarkan pada
penelitian yang dilakukan begbagai organisasi luar, data yang dihasilkan di
dalam untuk studi sebelumnya, dan bahkan informasi pelanggan yang dikumpulkan
oleh bagian penjualan atau bagian kredit perusahaan.
MERANCANG
STUDI RISET PRIMER
Pendekatan untuk tiap-tiap jenis
riset berbed dari sudut metode pengumpulan data , rancangan sampel, dan macam
alat pengumpulan data yang digunakan, sehingga tiap-tiap pendekatan riset
dibahas secara terpisah.
Rancangan
Penelitian Kuantitatif
Rancangan studi riset kuantitatif meliputi metode
pengumpulan data, rancangan sampel, dan pembuatan alat pengumpulan data
(misalnya kuesioner).
Ø Metode Pengumpulan Data
Ada
tiga cara pokok untuk mengumpulkan data:
1. Penelitian Observasi,
merupakan metode riset konsumen yang penting, untuk memperoleh pemahaman yang
mendalam mengenai hubungan antara orang dan produk dengan memperhatikan mereka
selama proses membeli dan menggunakan produk. Penelitian observasi juga dipakai
secara luas untuk memahami proses pembelian dan konsumsi.
2. Eksperimentasi, Eksperimen
terkontrol menjamin bahwa setiap perbedaan hasil peubah tak bebas (dependent
variable) disebabkan oleh perlakuan yang berbeda terhadap variable yang sedang
dipelajari dan bukan oleh faktor-faktor luar.
3. Survei, dapat dilakukan
melalui beberapa cara antara lain: (a) Survei wawancara perorangan, (b) Survei
melalui telepon, (c) Survei melalui pos.
·
Instrument
Pengumpulan Data
Instrumen pengumpulan data meliputi kuesioner, daftar
pertanyaan pandangan pribadi, skala sikap dan untuk data kualitatif, pedoman
diskusi. Instrumen pengumpulan data biasanya diuji terlebih dahulu dan di
“debugged” untuk menjamin validitas dan realibilitas suatu riset. Studi
dikatakan mempunyai validitas jika benar-benar mengumpulkan datayang tepat dan
dibutuhkan untuk menjawab pertanyaan atau tujuan yang dinyatakan pada tahap
pertama dalam proses riset. Studi dikatakan mempunyai reliabilitas jika
pertanyaan sama, yang dinyatakan kepada sampel yang serupa, menghasilkan
kesimpulan yang sama.
Rancangan
Penelitian Kualitatif
Dalam memilih format riset yang
tepat untuk studi kualitatif, maka harus dipertimbangkan tujuan studi dan jenis
data yang diperlukan.Metode riset yang digunakan mungkin berbeda komposisinya,
tetapi semuanya mempunyai akar dari psikoanalitis dan aspek klinis ilmu
psikologi, dan menekankan pada tipe pertanyaan terbuka dan jawaban bebas.
·
Metode
Pengumpulan Data
Pilihan teknik pengumpulan data
untuk studi kualitatif meliputi wawancara yang mendalam, kelompok fokus, teknik
proyeksi, dan analisi kiasan.
·
Penentuan
Sampel
Sebuah komponen terpadu dalam
rancangan riset adalah rencana penentuan sampel.Jumlah sampel tergantung pada
besarnya anggaran maupun tingkat kepercayaan yang diinginkan pelaku pasar dari
hasil risetnya. Semakin banyak sampel, semakin besar kemungkinan jawaban akan
mencerminkan keseluruhan populasi yang sedang dipelajari. Jika semua hasil
riset dapat diproyeksikan ke keseluruhan populasi, maka harus dipilih sampel
probabilitas.Namun, jika dianggap sudah memadai (bersifat mewakili), maka
sampel nonprobabilitas dapat dipilih.
PENGUMPULAN
DATA PRIMER
Studi kualitatif biasanya memerlukan
para pakar ilmu pengetahuan sosial yang sangat terlatih untuk mengumpulkan
data.Studi kuantitatif biasanya memerlukan staf lapangan yang dipekerjakan dan
dilatih langsung oleh peneliti dalam melakukan wawancara di lapangan.Semua
kuesioner yang sudah diisi di tinjau secara teratur ketika studi riset
berlangsung untuk memastikan bahwa jawaban yang tercatat jelas, lengkap, dan
dapat dibaca.
ANALISIS DATA
Pada riset kualitatif, moderator
atau pelaksana tes biasanya menganalisis semua jawaban yang diterima. Pada
riset kuantitatif , peneliti mengawasi analisis tersebut. Semua jawaban terbuka
diubah menjadi kode dan diukur (skor numeric), kemudian ditabulasikan dan
dianalisis dengan menggunakan program yang menghubungkan data menurut berbagai
variable yang dipilih dan mengelompokkan data menurut demografis yang dipilih.
PERSIAPAN
LAPORAN HASIL RISET
Pada riset kualitatif maupun
kuantitatif, laporan riset memuat juga kesimpulan singkat mengenai hasil-hasil
riset.Isi laporan memuat uraian lengkap mengenai metodologi yang digunakan,
untuk riset kuantitatif juga memuat berbagai table dan grafik untuk mendukung
hasil risetnya. Dalam merancang studi riset, para peneliti menyesuaikan proses
riset dengan kebutuhan khusus dari penelitian.
D. ETIKA
DALAM RISET KONSUMEN
Etika , Norma atau standar perilaku
yang memandu pilihan moral mengenai hubungan kita dengan orang lain, Etika
penelitian ini berkaitan erat dengan hak-hak dari berbagai pihak seperti
masyarakat, subjek, klien, dan peneliti
1. Sikap Positif (tetap
berkonstribusi)
2. Sikap Bertanya (untuk
mengetahui sesuatu)
3. Sikap Sangsi (sikap tidak
langsung menerima hal-hal yang dirasa masih meragukan)
Aspek moral dan etika dalam
berbisnis, khususnya pada yang berlandaskan analisis ilmiah bias saja
dijungkirbalikan oleh mereka yang berfikiran sempit dan pendek, sehingga tidak
obyektif. Hasilnya menjadi sebuah bom waktu yang setiap saat bias meledak dan
menghancurkan tidak hanya orang-orang yang terkait dalam bisnis itu,
tetapi secara marko ekomoni akan melemahkan ekomoni nasional dan membuat
masyarakat luas menjadi menderita .
Jadi
etika riset seharusnya tidak hanya disadari dan diketahui,tetapi harus
menyentuh juga tahap action. Sebagaimana aspek-aspek lain dalam
bisnis,riset pun mengharapkan perilaku etis dari para pelakunya yang mengacu
kepada norma-norma atau standar-standar moral pribadi dan dengan orang lain
agardipastikan bahwa tak seorang pun dirugikan.
KESIMPULAN
Riset konsumen berkembang sebagai
perluasan bidang riset pemasaran untuk memungkinkan para pemasar meramalkan
bagaimana konsumen akan bereaksi di pasar dan memahami alasan-alasan mereka
dalam mengambil keputusan untuk membeli. Hasil-hasil riset pasar dan riset
konsumen digunakan untuk memperbaiki pengambilan keputusan manajerial.Perilaku
konsumen memiliki kepentingan khusus bagi orang karena berbagai alasan
berhasrat mempengaruhi atau mengubah perilaku itu, termasuk mereka yang
kepentingan utamanya adalah pemasaran, pendidikan, dan perlindungan konsumen,
serta kebijakan umum.
Dalam hal ini pemasaran merupakan
proses pertemuan antara individu dan kelompok dimana masing-masing pihak ingin
mendapatkan apa yang mereka butuhkan/inginkan melalui tahap menciptakan,
menawarkan, dan pertukaran.Definisi pemasaran tersebut berdasarkan pada prinsip
inti yang meliputi: kebutuhan (needs), produk (goods, services and idea),
permintaan (demands), nilai, biaya, kepuasan, pertukaran, transaksi, hubungan,
dan jaringan, pasar, pemasar, serta prospek.
Beberapa pemasar menggunakan
gabungan riset kuantitatif dan kualitatif untuk membantu membantu mengambil
keputusan pemasaran strategis karena terbatasnya hasil riset kualitatif. Hasil
riset kualitatif digunakan untuk menemukan berbagai gagasan baru dan untuk
mengembangkan strategi promosi, sedangkan hasil riset kuantitatif digunakan
untuk meramalkan reaksi konsumen terhadap berbagai input promosi. Gagasan yang
berasal dari riset kualitatif terkadang diuji secara empiris dan menjadi dasar
bagi perancangan studi kuantitatif.Hasil penggabungan memungkinkan para pemasar
untuk merancang berbagai strategi pemasaran yang lebih berarti dan lebih
efisien yang bertujuan memperoleh laba maupun nirlaba.Kedunya juga membarikan
dasar yang lebih kuat untuk keputusan kebijakan public.
SARAN
Menurut kelompok kami, riset
konsumen sangatlah penting.Karena dengan adanya riset terseebut kita dapat
mengetahui setiap konsumen yang berbeda-beda kesukaan atau minat dan
keinginannya dalam memenuhi kebutuhan mereka. Riset konsumen itu memungkinkan
para konsumen mengambil keputusan untuk membeli, dan emaahami cara mereka
berinteraksi untuk membeli. Untuk itu sebagai pemasar harus bisa mepengaruhi
konsuen untuk mengambil keputusan membeli suatu produk yang dipasarkan atau
ditawarkan.
Riset Kuantitalif dan kualitatif
berpengaruh positif terhadap riset konsumen. Karena 2 riset tersebut dapat
mengetahui apa yang diinginkan oleh setiap konsumen. Tetapi riset kuantitalif
dan kualitatif ada kekurangannya. Seperti kuantitatif misalnya
dengan dia salah maka keinginan yang konsumen mau juga salah, kalau kualitatif
riset ini memerlukan wawancara langsung kepada konsumen, kalau dia tidak
melakukan wawancara maka dia tidak akan tau apa keinginan konsumen.
Sumber:
Tidak ada komentar:
Posting Komentar